DAKWAH = PROFESI ?

Oleh : Khodijah Fathin Nabila

0

Apa yang terbenak di fikiran kita ketika mendengar kata profesi? Pekerjaan? Gaji? Kesibukan? Kewajiban? Kebutuhan? Seberapa besar profesimu mempengaruhi hidupmu? Tidak berpengaruh? Biasa saja? Atau sangat berpengaruh? Begitulah hidup. Saat ini, semua bergantung pada profesi. Namun, apakah profesi itu sendiri?

Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris “Profess”, yang dalam bahasa Yunani adalah “Επαγγελια”, yang bermakna: “Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen”.

Profesi juga sebagai pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kesehatan, keuangan, militer, teknik desainer, tenaga pendidik.

Seseorang yang berkompeten di suatu profesi tertentu, disebut profesional. Walau demikian, istilah profesional juga digunakan untuk suatu aktivitas yang menerima bayaran, sebagai lawan kata dari amatir. Contohnya adalah petinju profesional menerima bayaran untuk pertandingan tinju yang dilakukannya, sementara olahraga tinju sendiri umumnya tidak dianggap sebagai suatu profesi.

Begitu pula dengan dakwah. Apakah dakwah bisa dianggap sebagai suatu profesi? Melihat fenomena saat ini, berapa banyak da’i yang menjadikan dakwah itu sebagai profesi mereka? Apakah mereka berdalih itu bukan profesi jika diminta mengisi suatu acara, namun mereka mematok harga? Apakah seperti itu seharusnya yang dinamakan seorang da’i?

Mari kita kupas apa arti kata dari dakwah sendiri. Dakwah (Arab: دعوة‎, da‘wah; “ajakan”) adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da’a yad’u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan. Sesuai dengan dalilnya,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran [3]: 110)

Secara tidak langsung, kita faham bahwa dakwah itu adalah kewajiban atas setiap muslim. Bukan kewajiban ustadz saja, atau bukan kewajiban guru saja, tapi seluruh kita mempunyai kewajiban atas itu. Mengajak kepada kebaikan, dan mencegah dari kemungkaran. Pertanyaannya, apakah sebuah ajakan kebenaran itu pantas dibayar oleh makhluk-Nya? Pantaskah?

Ibarat kita sedang menanam padi, apa yang pertama kali kita niatkan? Supaya padi ini bisa tumbuh subur, kemudian mengahasilkan beras, dan akhirnya kita masak menjadi nasi yang bisa dimakan. Begitu bukan? Berbeda cerita bilamana ketika kita sedang menanam padi, lalu di tengah asyiknya kita bekerja, kita mendapatkan belut. Apa yang kita lakukan? Bisa jadi kita akan melepas belut itu kembali, namun bisa jadi juga kita akan membawa belut itu ke rumah, lalu memasaknya. Lumrahnya seperti itu. Namun, apakah orang yang akan menanam padi, dia akan niatkan mencari belut semata? Dan mengendahkan tugasnya untuk menenam padi? Akankah seperti itu? Kecuali jika dia berprofesi sebagai penjual belut, itu sudah beda cerita lagi.

Begitulah dakwah. Bilamana kita diminta untuk mengajar agama, mengajar ngaji, mengisi taklim, mengisi pengajian, mengisi tabligh akbar, itu semua kita niatkan untuk berdakwah. Karena itu adalah panggilan Allah. Allah yang sudah mengilhami orang tersebut untuk mengundang kita, berdakwah di tempat tersebut. Karena apa? Karena Allah sayang kita. Dan Allah sudah mempersiapkan imbalan yang tidak bisa kita hitung jumlahnya walaupun menggunakan kalkulator Casio sekalipun. Apakah kita pantas menolak? Apakah kita pantas meminta tarif atas itu? Apakah pantas kita meminta bayaran sedang yang memanggil kita adalah Allah sendiri?

Namun, bilamana ketika keberjalanan dakwah itu kita mendapatkan rizki tak terduga, itu adalah sedikit rizki yang Allah titipkan untuk oknum tersebut kepada kita. Sama ada kita ingin mengambilnya, menolaknya, atau justru menshodaqohkannya kepada yang lebih membutuhkan, itu adalah hak prerogative kita. Silahkan. Itu adalah rizki yang tidak bisa kita sia-siakan. Tinggal pertanyaannya, rizki itu adalah milik siapa? Mengapa demikian? Karena rizki sendiri adalah yang habis kita makan, yang usang kita kenakan dan yang rusak kita pakai.

Misalkan, ada seorang ustadz yang berdakwah, lalu kemudian mendapat bingkisan berupa roti. Apakah itu rizki sang ustadz? Belum tentu. Karena si ustadz membatin, “Alhamdulillah, rizki anak-anak di rumah.” Apakah roti itu akan menjadi rizki anak-anak sang ustadz? Belum tentu juga. Di tengah perjalanan pulang, sang ustadz bertemu anak kecil yang sedang mengamen untuk hanya sekedar mengganjal perutnya yang lapar. Sang ustadz merasa iba lalu memberikan roti itu kepada pengamen kecil tersebut. Fikirnya, “Ga apalah. Anak-anak nanti bisa saya belikan yang lain.” Apakah roti itu menjadi rizki si pengamen kecil? Belum tentu. Si pengamen kecil yang mendapat roti dari sang ustadz, langsung berlari kegirangan menuju suatu tempat. Menyelip di sela-sela kendaraan, menyusuri gang-gang kecil dan akhirnya sampai pada sebuah pintu. Mengetuk pintu tersebut. Lalu tersembul dari balik pintu itu seorang balita yang sedang memegang mainan kesenangannya. Si pengamen kecil tersebut yang tak lain adalah kakaknya segera memberikan roti itu kepada si adik, yang rupanya juga sudah menahan lapar. Si adik kegirangan melihat sang kakak membawakan roti untuknya. Dengan sigap dia menyobek roti itu, lalu menyodorkannya kepada sang kakak. Sang kakak menggeleng, “Buat kamu saja.Makanlah.” Sang adik tersenyum, mengangguk, lalu segera memakan roti tersebut. Terlihat pancaran sinar kebahagiaan dari mata sang kakak. Bahagia melihat adiknya bahagia.

Itulah rizki yang sangat erat hubungannya dengan dakwah. Kita tidak pernah tau rizki kita akan datang dari mana, akan datang melalui siapa. Buat apa kita takut kekurangan, bilamana Allah sudah menjanjikan kehidupan untuk kita? Dan begitu jugalah seorang da’i. Karena da’i bukanlah ‘diberi’, tetapi seharusnya ‘memberi’.

وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغۡنَىٰ وَأَقۡنَىٰ ٤٨

“Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan,”

(An-Najm : 48)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.