Kajian Efek Polusi Laut pada Akuakultur di Selat Sunda

oleh Shade Rahmawati (Laboratorium Energi dan Lingkungan Laut Departemen Teknik Kelautan, ITS Surabaya)

0

Selat Sunda yang menghubungkan Pulau Jawa bagian barat dan Pulau Sumatera bagian selatan merupakan salah satu lokasi penting bagi perekonomian yang meliputi sektor industri pelabuhan, transportasi, wisata, dan perikanan atau akuakultur secara umum. Perikanan khususnya telah menjadi mata pencaharian utama bagi komunitas lokal sejak lama. Pesisir pantai dari Selat Sunda sepanjang 37 km tersebut adalah rumah bagi sekitar 23.000 nelayan baik perikanan tangkap maupun budidaya [1-2]. Bergulirnya isu pencemaran, terutama yang bersumber dari pembuangan limbah dari darat, menjadi perhatian terutama bagaimana efeknya terhadap akuakultur di Selat Sunda.

Pada beberapa studi yang dilakukan sebelumnya, larutan logam berat dengan konsentrasi tinggi ditemukan di area Selat Sunda, terutama di sepanjang pantai barat Pulau Jawa [3-4] dan pantai selatan Pulau Sumatera [5]. Pertumbuhan penduduk sangat mempengaruhi pencemaran yang berasal dari daratan, terutama dalam bentuk logam berat timbal (Pb) [6]. Kandungan Pb baik dalam sedimen ataupun yang terlarut terbilang signifikan pada mixing layer, yaitu 20 mg/L [4] dan dapat menurunkan produktifitas perikanan dan budidaya laut. Berdasarkan penelitian sebelumnya [7-8], Pb dapat mengontaminasi dan menginfiltrasi biota laut. Meskipun proses infiltrasi tersebut lambat, Pb dapat dengan cepat menghambat proses respirasi dan fotosintesis pada phytoplankton algae sebagaimana ditunjukkan dengan grafik hubungan konsentrasi Pb dan persentase fotonsintesis phytoplankton algae [9].  Phytoplankton algae adalah mikro-organisme autotrophic yang memiliki kemampuan untuk memproduksi zat organik melalui proses fotosintesis dengan bantuan cahaya. Hampir 95% produksi primer di laut dihasilkan oleh phytoplankton [10]. Di Indonesia, terutama di sekitar Pulau Jawa, spesies phytoplankton didominasi Bacillariophyceae, 71-78% di pantai dan 73-85% di lepas pantai. Dengan mengestimasi distribusi konsentrasi Pb akibat aliran arus pasang surut, pengaruhnya pada fotosintesi phytoplankton algae dapat diketahui. Variasi spasial dan temporal dalam akumulasi polutan sangat dipengaruhi oleh jarak dengan sumber polusi dan kondisi fisik lingkungan seperti arus dan mixing [3], begitu pula dengan pola sebaran yang dipengaruhi pola arus permukaan [4]. Dengan memodelkan pola arus di Selat Sunda beserta estimasi sebaran polutan Pb, pengaruhnya pada persentase fotosintesis phytoplankton algae, yang mana akan berpengaruh pula pada kualitas budidaya perikanan di area tercemar. Pola aliran arus pasang surut di Selat Sunda pada musim monsoon timur dan barat telah dimodelkan dengan menggunakan ocean circulation model dan menunjukkan persebaran sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3. Pola aliran arus tersebut berpengaruh pada pola sebaran polutan yang bersumber dari pelabuhan Merak dan Bakaehuni sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4. Sebaran Pb dengan konsentrasi di atas 10mg/L (hasil ini sesuai dengan studi lapangan pada [11]) diestimasi berefek signifikan dengan menurunnya persentase fotosintesis phytoplankton algae hingga 0% pada radius 5km dari Pelabuhan Merak. Estimasi persentase fotosintesis phytoplankton algae di Selat Sunda (Gambar 4) menunjukkan bahwa konsentrasi Pb di perairan sangat berpengaruh pada produksi primer laut yang mana pada akhirnya akan mempengaruhi produktifitas budidaya laut di area tercemar. Informasi ini dapat digunakan untuk menentukan lokasi perairan yang tepat untuk budidaya laut dengan menghindari area dengan konsentrasi Pb terlarut yang tinggi.

Gambar 1. Lokasi Studi Cemaran Laut

Gambar 2. Persentase Fotosintesis Bacillariophycea setelah 72jam uji laboratorium [9]

(a)

(b)

Gambar 3. Pola Aliran di Selat Sunda pada (a) Monsoon Timur dan (b) Monsoon Barat

            (a)                                                                  (b)

Gambar 4. Pola Sebaran Konsentrasi Pb dan Persentase Fotosintesis Phytoplankton Algae pada (a) Monsoon Timur dan (b) Monsoon Barat

Referensi

[1] Ministry of Marine Affairs and Fisheries Banten Province. Statistic Report 2014. Technical report, Serang, Banten, 2014.

[2] Fadilah, Zainal Abidin, and Umi Kalsum. Household Income and Welfare of Torch Fisherman in Bandar Lampung City (in Indonesian). JIIA, 2(1):71–76, 2014.

[3] Ririn Irnawati, Adi Susanto, Mustahal, and Mohamad A Syabana. AES BIOFLUX Heavy metals concentration in water and sediment at Panjang Island, Serang Regency, Banten Province, Indonesia. AES Bioflux, 6:256–260, 2014.

[4] Faiza Fauziah and Devi N. Choesin. Accumulation of Pb and Cu heavy metals in sea water, sediment, and leaf and root tissue of Enhalus sp. in the seagrass bed of Banten Bay. In AIP Conference Proceedings, volume 1589, pages 329–333, 2014.

[5] Tri Muji Susantoro, Djoko Sunarjanto, and Ariani Andayani. Distribution of Heavy Metal in Sediment at Coastal Area Jambi Province. Jurnal Kelautan Nasional, 10(1), 2015.

[6] Kees Booij, M. Theo J Hillebrand, Rob F. Nolting, and Jan Van Ooijen. Nutrients, trace metals, and organic contaminants in Banten Bay, Indonesia. Marine Pollution Bulletin, 42(11):1187–1190, 2001.

[7] Zainal Arifin, Rahma Puspitasari, and Nobuyuki Miyazaki. Heavy metal contamination in Indonesian coastal marine ecosystems: A historical perspective. Coastal Marine Science, 35(1):227–233, 2012.

[8] Tommy Martho Palapa and Alfonds Andrew Maramis. Heavy Metals in Water of Stream Near an Amalgamation Tailing Ponds in Talawaan – Tatelu Gold Mining, North Sulawesi, Indonesia. Procedia Chemistry, 14:428–436, 2015.

[9] Marti L. Woolery and Ralph A. Lewin. The effects of lead on algae. Water, Air, and Soil Pollution, 6(1):25–31, Aug 1976.

[10] John J. Walsh. Steemann nielsen, e. 1975. marine photosynthesis with special emphasis on the ecological aspects. elsevier sci. publ. co., amsterdam and new york, x + 142 p.21-75. Limnology and Oceanography, 21(4):633–633, 1976.

[11] Endan Suwandana, Kensuke Kawamura, and Endro Soeyanto. Assessment of the Heavy Metals and Nutrients Status in the Seawater, Sediment and Seagrass in Banten Bay, Indonesia and Their Distributional Patterns. Journal of Fisheries International, 6(1):18–25,  2011.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.