Engineer dan Scientist: Sebuah Kolaborasi

Oleh : Kholqillah Ardhian Ilman (Universitas Gadjah Mada)

0

Saat dulu saya sedang mengerjakan penelitian, sebagai jalan yang harus tempuh untuk memperoleh gelar Magister, saya teringat sebuah perkataan yang cukup menarik karena itu diucapkan oleh seorang profesor yang merasa aneh dengan riset salah satu mahasiswa doktoral di lab kami. Waktu itu, profesor itu bercerita tentang salah satu riset mahasiswa yang baginya cukup menarik dan akan menjadi sebuah temuan yang cukup besar jika riset itu berhasil dilakukan. Namun diakhir cerita, walaupun ceritanya diawali dengan nuansa kekaguman, ia menambahkan bahwa riset itu tergolong aneh dilakukan dan mungkin kontribusi tertingginya hanya akan menjadi salah satu artikel yang dimuat di jurnal internasional. Singkat cerita, mahasiswa tersebut sedang melakukan riset mengenai komposit (material ringan) yang diperkuat dengan menggunakan serat alam berskala nano. Secara teoritis serat nano ini akan memperkuat komposit lebih baik daripada komposit pada umumnya. Untuk dapat memperoleh serat alam berskala nano, dibutuhkan proses yang lama dan mahal. Dan sangat tidak realistis jika diterapkan di industri yang tidak hanya memperhatikan kualitas, namun juga kuantitas, waktu, dan aspek ekonomis. Sebagai tambahan informasi, laboratorium tempat saya melakukan penelitian merupakan laboratorium khusus material teknik (engineering material), dan dari namanya saja sudah jelas kalau itu adalah lab-nya orang teknik.

Saya merasa bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di laboratorium tempat saya berada. Terkadang terdapat benturan antara pikiran seorang scientist dan seorang engineer dalam melakukan penelitian. Mungkin bagi seorang chemist menemukan cara untuk membuat suatu molekul adalah sebuah prestasi walaupun hanya satu atau dua gram dalam skala lab. Namun, jika seorang chemical engineer ingin menerapkan nya di industri, tentunya apa yang sudah dilakukan oleh chemist tadi tidaklah mungkin dilakukan. Bahkan mungkin seorang chemical  engineer tadi akan meminta si Chemist untuk mencari cara agar molekul itu bisa dibuat dalam skala yang lebih besar dan produktif, bahkan sampai jutaan ton pertahun.

Ilustrasi ini saya coba tuangkan dalam sebuah gambar. Gambar 1 menunjukkan garis yang menjelaskan bagaimana kebanyakan orang memandang apa itu scientist dan engineer. Di sebelah kiri tertulis fundamental science dan sebelah kanan tertulis applied engineering. Fundamental science menjelaskan mekanisme baru dan riset mendasar tentang suatu fenomena dan ini ranahnya scientist. Misal pembuatan serat alam skala nano untuk keperluan penguatan komposit. Sedangkan applied engineering, adalah aktivitas yang dilakukan oleh engineer agar hasil temuannya bisa diaplikasikan di dunia nyata. Secara umum bisa masuk industri lalu diproduksi dan sampai ke tangan konsumen. Pada Gambar 1 juga terlihat adanya garis tengah yang memisahan antara dimensi fundamental dan applied science.

Gambar 1. Arah gerak fundamental science dan applied engineering.

Saya rasa saat ini hampir keseluruhan pandangan itu (Gambar 1) sudah berubah, dan memang harus dirubah. Kalau kita lihat di negara yang industrinya maju, ada hubungan yang erat antara fundamental science dan applied engineering. Bahkan banyak industri raksasa yang membuka peluang proyek untuk kalangan fundamental scientist dan hasil temuannya berupa suatu konsep yang applicable untuk skala industri. Salah satu contoh nyatanya adalah apa yang sudah dilakukan oleh seorang associate professor di Clemson University, John Desjardins. Ia menghubungkan antara mahasiswa di kampusnya dengan perusahaan biomedis Amerika. Tujuan dari proyek ini adalah memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, berupa pengalaman bagi mahasiwa dan inovasi bagi industri.

Menghubungkan antara industri dan universitas bukanlah hal yang baru di dunia, namun perlu kita akui bahwa Indonesia belum banyak melakukannya. Masih banyak hasil riset yang digunakan hanya sebatas untuk persayaratan jenjang studi dan banyak industri yang masa bodoh dengan hasil riset/teori yang universitas hasilkan. Sehingga kita perlu redefining makna fundamental engineering dan applied science ke arah yang membuat mereka bisa saling bertemu, bukan saling menjauhi seperti pada Gambar 1.

Gambar 2. Arah gerak fundamental engineering dan applied science.

Gambar 2 menunjukkan redefinisi dari fundamental science dan applied engineering. Terlihat bahwa bukan lagi fundamental science, tapi fundamental engineering. Bukan lagi applied engineering tapi applied science. Dan yang tak kalah penting bahwa garis yang memisahkan antara dunia science dan engineering sudah hilang. Artinya apa, bahwa kita harus sudah merubah mindset tentang bagaimana kita melakukan penelitian. Bagi seorang scientist, ketika ingin melakukan penelitian, ia harus memberi ruang pada temuan nya untuk bisa masuk ke dalam industri. Bukan hanya semata-mata baru dan belum ada di dunia maka langsung dilakukan tanpa berpikir apa manfaat langsungnya bagi masyakarat. Sedangkan bagi seorang engineer, bahwa perlu memberikan ruang untuk dapat menerima masukan dari scientist dengan temuannya. Jangan sampai menutup diri dan berbangga bahwa pengalaman di lapangan jauh lebih masuk akal daripada perhitungan dan simulasi di laboratorium.

Sudah saatnya kalangan akademik kampus dan industri saling kerjasama untuk bersama-sama memajukan bangsa dengan karya yang saling mendukung. Bukan dengan karyanya masing-masing dan sendiri-sendiri.

*****

 

Daftar Pustaka:

  1. https://helix.northwestern.edu/blog/2013/12/what-difference-between-science-and-engineering
  2. https://venturewell.org/industry-and-university-collaboration/

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.