Sistem Peringatan dini dan Mitigasi Bencana Tanah Longsor

Oleh : Muhammad Mukhlisin (Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Semarang, Indonesia)

0

Ringkasan

Data kejadian tanah longsor dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan adanya trend peningkatan dari tahun ke tahun. Kepala BPNP menyatakan bahwa kapasitas untuk menyelamatkan diri dari bencana longsor masih rendah, sementara warga yang terkena langsung bahaya longsor sebanyak 40,9 juta jiwa. Walaupun bencana tanah longsor banyak mengancam harta dan jiwa, tapi upaya deteksi dini masih perlu ditingkatkan khususnya pada daerah pelosok yang berpotensi rawan longsor. Disamping upaya yang bersifat teknis, juga diperlukan upaya yang bersifat sosial yaitu dengan pemberdayaan masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor untuk memahami dan menyadari arti penting pencegahan dan penanggulangan bencana tersebut.

  1. Latar Belakang

Data kejadian tanah longsor dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan adanya trend peningkatan jumlah kejadian tanah longsor di Indonesia daru tahun ke tahun. Puncak kejadian terjadi pada tahun 2014 dimana 338 orang meninggal akibat tanah longsor dengan total kejadian sebanyak 385 kejadian. Selain korban meninggal, ratusan rumah rusak dan 13.262 orang mengungsi. Dari data kejadian itu, propinsis Jawa Tengah dan Jawa Barat adalah yang terbesar dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain yang ada di Indonesia. Menurut kepala BPNP menyatakan bahwa, kapasitas untuk menyelamatkan diri dari bencana longsor masih rendah, terutama di wilayah-wilayah yang terpencil. Jumlah warga Indonesia yang terkena langsung bahaya longsor sejumlah 40,9 juta jiwa, seperenam penduduk Tanah Air. Di antara sejumlah warga itu, terdapat 4,28 juta jiwa balita, 323.000 jiwa orang berkebutuhan khusus dan 3,2 juta jiwa lansia yang lebih rentan bencana. Pada tahun  2017 terdapat total bencana sebanyak 1.481 kejadian dengan jumlah korban yang meninggal dan hilang sebanyak 281 orang, korban menderita dan mengungsi sebanyak 2.028.526 orang serta kerusakan pemukiman sebanyak 19.502 Unit (BNPB, 2017).

Kejadian dan penelitian tentang tanah longsor juga telah dilaporkan terjadi di banyak  negara seperti Indonesia (Puturuhu et al. 2017), Malaysia (Mukhlisin et al. 2010, Alnaimat 2017), Singapora (Rahardjo et al. 2001), Korea (Kim et al 2017), Taiwan (Chen 2009), Jepang (Osanai  et al. 2010), dan Hongkong (Chau et al. 2004), Italia oleh Guzzetti et al (2006, 2012), Switzeland (Fan et al. 2015). Dalam hal jumlah kejadian, sebagai contoh di Malaysia dari tahun 1961 hingga 2007 terdapat sebanyak 455 kejadian tanah longsor (Jabatan Kerja Raya, 2008), disamping itu menurut Ng. K.Y (2012), dari tahun 1991-2011 telah terjadi sekitar 81 kejadian longsor di Malaysia yang mengakibatkan kerugian harta benda dan nyawa. Dengan banyaknya peristiwa tanah longsor di Indonesia dan dunia pada umumnya, maka makalah ini menjelaskan tentang kejadian tanah longsor di Indonesia, penyebab terjadinya, system monitoring dan peringatan dini serta kondisi yang ada di Indonesia dalam penanggulannya.

Kejadian Tanah Longsor di Indonesia

Gambar 1a menunjukkan kejadian tanah longsor, korban yang meninggal, hilang dan terluka yang ada dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia dari tahun 1996-2015. Gambar ini menunjukkan bahwa kejadian dan korban tanah longsor di Jawa Tengah dan Jawa Barat adalah yang terbanyak dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia. Sementara Gambar 1b menunjukkan tren kejadian longsor yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan jumlah kejadian tanh longsor lebih banyak disebabkan oleh penambahan jumlah penduduk yang menempati daerah rawan bencana. Oleh karena itu perlu dilakukan usaha untuk mengurangi dampak dari resiko dari akibat bencana tanah longsor.

Gambar 1. Data kejadian dan korban tanah longsor di Indonesia (a) per-propinsi dan (b) jumlah kejadian tahun 1996 – 2015. Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB, 2015)

  1. Penyebab Longsor

Beberapa hal berikut ini adalah beberapa factor yang berkaitan dengan penyebab terjadinya bencana longsor:

Curah Hujan: Curah hujan dianggap sebagai penyebab utama terjadinya longsor, maka karakteristik curah hujan harus dipertimbangkan dalam analisis terjadinya longsor (Mukhlisin dan Taha, 2012; Mukhlisin et al. 2015). Pengaruh curah hujan yg di ketidakstabilan lereng telah diterima dengan baik. Namun, durasi kritis curah hujan yg masih banyak diperdebatkan. Selama dan setelah acara hujan, sebagian dari air hujan yang mencapai permukaan lereng menyusup ke dalam tanah sementara yang lain menjadi limpasan permukaan. Ketika air infiltrat lereng, hisap matric menurun sebagai kelembaban tanah meningkat, kemudian mengubah struktur tanah, dan mengurangi kekuatan gesekan dan kohesif antara partikel (Gofar et al. 2006). Akibatnya, tekanan negatif air pori antara partikel tanah dan kekuatan geser menurun, maka akan mempengaruhi stabilitas lereng (Gasmo et al. 2000; Bujang et al. 2006; Mukhlisin et al. 2011).

Retakan pada Lereng tanah:

Fan et al, (2005) dan Wang et al, (2011) menjelaskan bahwa keberadaan retakan di lereng tanah dapat menurunkan stabilitas lereng melalui tiga efek yaitu: (1) Celah/retakan tanah menyediakan saluran aliran preferensial yang meningkatkan permeabilitas tanah dan mengurangi kekuatan tanah, (2) pada retakan yang dipenuhi air akan memperkuat ketidakstabilan lereng, dan (3) Celah akan menyebabkan berkurangnya kekuatan geser tanah. Beberapa post-mortem analisis tanah longsor oleh Nurly et al, (2006) di Air Laya, Indonesia menunjukkan bahwa penyebab kegagalan lereng ditemukan karena adanya retak.  Keberadaan retak dalam di lereng akan menyebabkan peningkatan yang tajam dalam tekanan air pori karena memungkinkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah dan melemahkan tanah sekitar. Zhang et al. (2005) menyatakan bahwa peningkatan 30% di dalam kandungan air tanah akan menyebabkan penurunan kekuatan geser tanah hingga 80% dari kekuatan tanah asli yang diperoleh dari pemadatan kandungan air optimal.

Geologi:

Kegagalan lereng sangat dipengaruhi oleh faktor kondisi geologi. Di antaranya adalah pengaruh profil, kemiringan lereng dan sifat tanah itu sendiri. Kondisi tanah pada sebuah lereng dapat berkeadaan lemah pada awalnya atau berubah menjadi lemah. Kondisi ini terjadi ketika sedimen tanah yang longgar menjadi jenuh dengan kehadiran air seperti tanah organik atau tanah liat. Lee et al. (2011) dan Mukhlisin et al. (2006), Gavin & Xue (2008). menyebutkan bahwa kompleksitas ini disebabkan oleh parameter seperti tingkat kemiringan, tekstur tanah, kondisi awal kelembaban tanah, kemampuan retensi air tanah, porositas tanah dan tingkat penguapan. Proses pelapukan yang aktif pada musim kemarau akan mengakibatkan batuan dan tanah menjadi tanah halus dan mengalami reaksi kimia. Kejadian ini akan melemahkan ikatan dan kekuatan geser tanah dan seterusnya mengakibatkan ketidakstabilan berikutnya berkontribusi kegagalan lereng.

Manusia:

Dengan semakin sempitnya lahan di wilayah perkotaan mengakibatkan adanya pembangunan gedung di wilayah perbukitan. Beban gedung bertingkat pada wilayah bukit dalam kondisi tertentu bisa mengakibatkan kegagalan slope (Mukhlisin et al, 2015). Pembangunan di suatu wilayah yang melibatkan berbagai aktivitas pekerjaan tanah seperti pengerukan, reklamasi, pemotongan dan penimbusan kembali tanah untuk menyesuaikan elevasi tanah. Kegiatan ini juga melibatkan kerja pemotongan pohon dan berbagai macam tanaman. Ini akan menyebabkan kegagalan lereng karena pohon dan tanaman asli ini berfungsi untuk menyerap aliran limpasan permukaan. Permukaan lereng yang rentan akan meningkatkan kejadian erosi tanah dan seterusnya mengakibatkan tanah longsor.

Elevasi Air Tanah:

 Proses air hujan yang mengalir sebagai limpasan aliran permukaan yang menginfiltrasi kedalam lapisan tanah faktor utama yang dapat mengganggu stabilitas lereng. Selain itu, peningkatan permukaan air tanah pada lereng secara dramatis akan meningkatkan tekanan air tanah dan mengurangi tegangan efektif pada kemiringan tanah yang jenuh. Infiltrasi dan tekanan air tanah memberi pengaruh yang besar terhadap ketidakstabilan lereng (Mukhlisin et al, 2006). Efek dari proses ini akan meningkatkan kadar air tanah dan mengurangi derajat tekanan air pori negatif dan selanjutnya mengurangi kekuatan geser tanah.

  1. Sistem Monitoring dan Peringatan Dini untuk Tanah Longsor

Dengan semakin banyaknya masyarakat yang tinggal pada daerah rawan bencana, khususnya pada daerah longsor maka cara yang terbaik adalah dengan belajar bagaimana bisa tinggal bersama dengan kondisi alam yang ada. Hal ini penting agar masyarakat bisa memahami dan memprediksi tanda-tanda perilaku longsor. Masyarakat yang hidup pada daerah dengan potensi bencana, harus memahami dan menyadari akan resiko yang terkait dengannya. Dengan pemahaman dan kesadaran itu diharapkan ketentuan-ketentuan yang dibuat untuk mengurangi risiko bencana dapat diterima oleh masyarakat tersebut. Salah satu bentuk teknologi yang perlu diaplikasikan untuk mengurangi resiko bencana tanah longsor adalah penerapan sistim teknologi pemantauan dan peringatan dini pada daerah rawan longsor. Peran pemantauan dan peringatan dini bahaya longsor ini adalah untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan untuk menghindari atau mengurangi dampak bencana longsor.

Dengan meningkatnya bencana alam yang ada di Indonesia dan bahkan di seluruh dunia, pemantauan tanah longsor dan khususnya peringatan dini, semakin banyak mendapat perhatian. Adanya kebutuhan yang semakin meningkat untuk menemukan daerah lahan baru untuk perluasan kota, mengakibatkan adanya pembangunan di daerah dengan lereng yang tidak stabil. Di sisi lain, kemajuan teknologi teknologi pengukuran serta prosedur akuisisi data, transmisi dan analisis telah membuat sistem pemantauan dan peringatan dini lebih mudah diterapkan.

Persyaratan Sistem Peringatan Dini

Tujuan utama dari system peringatan dini adalah untuk memberikan peringatan dini kepada pihak terkait atau masyarakat, sehingga bisa segera dilakukan tindakan yang tepat untuk meminimalkan dampak jika terjadi terjadi tanah longsor. Komponen lengkap sistem monitoring dan peringatan dini terdiri dari berbagai jenis sensor atau instrumentasi, kriteria peringatan berdasarkan nilai ambang batas, peralatan komunikasi dan juga sebagai alat untuk penyebaran peringatan.

Lacasse dan Nadim (2009) menyebutkan bahwa sistem monitoring dan peringatan dini yang andal adalah yang bisa menterjemahkan beberapa hal berikut ini sedemikian rupa sehingga proses awal sebelum terjadinya longsor itu bisa diketahui dengan baik:

– Pengetahuan terkait area longsor (proses, perilaku, mekanisme pemicu, dll.)

– Pengetahuan historis tentang pemicu (misalnya curah hujan)

– Program pemantauan yang efektif

– Interpretasi data

– Teknologi informasi untuk analisis dan diseminasi peringatan

– Pengambilan keputusan, termasuk kemungkinan intervensi manusia

– Toleransi umum terhadap alarm palsu

– Sistem komunikasi

– Rencana tindakan yang telah ditetapkan sebelumnya untuk implementasi

– Umpan balik dan kemampuan adaptasi sistem dan pengetahuan yang selalu berkembang.

Jika terjadi longsor atau ada tanda-tanda awal terjadinya longsor, diperlukan waktu untuk deteksi melalui sistem peringatan dini, pemberitahuan dari pihak pemerintahan memerlukan tindakan yang segera seperti penutupan jalan, evakuasi, dll. Dalam kondisi seperti komunikasi antara pemerintah dan masyarakat adalah kebutuhan yang paling penting. Berbagi informasi mengenai sistem pemantauan merupakan persyaratan mutlak untuk sistem peringatan dini yang efektif. Penyebaran informasi yang efisien adalah sebuah tantangan. Penyebaran informasi untuk peringatan dini juga tergantung pada toleransi dari pihak masyarakat, metode yang digunakan untuk penyebaran informasi dan pengukuran itu sendiri dan persepsi keandalannya.

Sistem Peringatan Dini

Sistem peringatan dini mengurangi risiko dengan mengurangi konsekuensinya. Sistem mengeluarkan peringatan atau peringatan cukup dini untuk memberi waktu tunggu yang cukup untuk menerapkan tindakan untuk melindungi orang dan / atau properti. Sistem peringatan dini untuk tanah longsor adalah sistem pemantauan yang dirancang khusus untuk mendeteksi kejadian yang mendahului tanah longsor pada waktunya untuk mengeluarkan peringatan bahaya yang akan segera terjadi dan memulai langkah-langkah mitigasi. Kunci untuk sistem peringatan dini yang sukses adalah yang dapat mengidentifikasi dan mengukur indicator-indikator perubahan, namun yang penting dapat mendahului tanah longsor. Penyebab awal terjadinya longsor yang relevan sangat tergantung pada jenis tanah longsor yang terjadi. Contoh khas penyebab awal terjadinya longsor adalah curah hujan yang intens, getaran tanah dan gempa bumi, peledakan, percepatan atau pergerakan yang tinggi di lereng, peningkatan tekanan air pori tanah arus aliran cepat di ujung lereng. Instrumen yang seringdipakai dalam sistem peringatan dini longsor adalah alat pengukur hujan, geofon, seismograf, piezometer, inclinometer, ekstensometer dan alat untuk mengukur pergerakan lereng.

Keandalan pengukuran sangat penting dalam sistem pemantauan apapun, namun terutama pada sistem peringatan dini. Alarm palsu yang dihasilkan oleh sistem peringatan dini otomatis dapat menimbulkan lebih banyak bahaya daripada tanah longsor itu sendiri. Dengan demikian, metode pengukuran redundansi dan alternatif harus dipertimbangkan untuk menghindari alarm palsu. Konsekuensi dari alarm palsu dalam sistem peringatan sangat serius sehingga harus dilakukan usaha untuk menghilangkannya. Salah satu langkah penting dalam proses ini adalah memasukkan langkah pengendalian kualitas data dalam perolehan dan pengolahan data untuk memastikan bahwa data yang keliru tidak digunakan dalam analisis dan peramalan aktivitas longsor. Langkah lain adalah memaksimalkan penggunaan kecerdasan manusia dan ‘ pertimbangan teknik dalam pengambilan keputusan. Proses ini memiliki keterbatasan praktis dalam sistem peringatan yang sepenuhnya otomatis. Komponen sistem peringatan dini adalah sensor dan alat ukur, unit akuisisi data real-time dengan link komunikasi dan perangkat lunak untuk memproses dan menganalisa pengukuran. Sistem mengeluarkan peringatan melalui tautan komunikasi secara otomatis saat nilai ambang batas alarm standar telah terlampaui. Sistem peringatan dini terdiri dari empat kegiatan utama: pemantauan, analisis data dan peramalan, peringatan dan respon (Lacasse dan Nadim, 2009).

  1. Strategi pengurangan risiko bencana longsor yang ada di Indonesia

Di Indonesia pembuatan  peta daerah rawan bencana (hazard map) beberapa tempat sudah dibuat, dan perlu untuk disebarkan dalam rangka untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang resiko kemungkinan bencana yang akan terjadi. Pendekatan yang dilakukan kepada masyarakat disamping aspek pengembangan hazard map-nya, juga pada aspek distribusi dan penyadaran masyarakatnya. Dalam rangka untuk penyadaran peran masyarakat untuk bersiap siaga menghadapi bencana yang mungkin dihadapi terjadi maka perlu dikembangkan sebuah sistem yang disebut dengan Community Based Hazard Mapping.

Community Based Hazard Mapping adalah sebuah komunitas masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana untuk bertemu, berdiskusi dan berkomunikasi untuk meningkatkan pemahaman atas bencana yang akan terjadi dan menentukan langkah-langkah konkret bila suatu saat nantinya realitas bencana itu datang. Ada tiga tujuan utama dalam pembentukan Community Based Hazard Mapping:

  • untuk melibatkan masyarakat (penduduk lokal) dalam pengembangan peta wilayah bencana untuk komunitasnya.
  • untuk menggambarkan opini/pendapat dari masyarakat dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerahnya.
  • untuk membantu perkembangan saling pengertian terhadap resiko diantara penduduk setempat, pemerintah daerah dan para peneliti (tenaga ahli).

Gambar 2. menunjukkan gambaran dari Community Based Hazard Mapping. Pertama pemerintah daerah mengintegrasikan informasi dasar (peta topography, jalan, bangunan, penduduk, tata guna lahan, dll) dengan informasi bencana yang sudah terjadi di masa lalu dan prakiraan bencana pada peta local daerah. Para tenaga ahli memberikan arahan dalam menilai bencana. Dengan menggunakan informasi yang terintegrasi dengan baik pemerintah daerah mengembangkan sebuah rencana evakuasi dan sebuah draf hazard map. Draf dibuat dalam bentuk print-out kemudian disebarkan ke penduduk setempat dan semua stakeholder yang ada.

Diskusi antara pemerintah daerah, penduduk setempat dan para tenaga ahli adalah proses yang paling penting dalam Community Based Hazard Mapping. Pada dasarnya penduduk setempat adalah pelaku utama untuk memahami dan mengetahui informasi tentang daerahnya. Masukan pemikiran dari penduduk lokal adalah sangat diperlukan untuk pengembangan dari hazard map. Sementara itu, dengan diskusi akan membangun konsensus diantara stakeholder yang ada. Dengan menggabungkan hasil-hasil diskusi dengan draf peta bencana, maka Community Based Hazard Map dapat dioptimalkan.

Gambar 2. Konsep Community Based Hazard Map

Karnawati dkk (2011) menjelaskan beberapa pendekatan kepada masyarakat yang bisa dilakukan meliputi: pendekatan strategis teknis; pendekatan sosial-strategis melalui pengembangan kapasitas; pembentukan gugus tugas masyarakat untuk mitigasi dan pengelolaan bencana; serta pendekatan sosial-strategis melalui pengembangan kapasitas.

Pendekatan teknis dilakukan terutama dengan memberikan informasi akses langsung mengenai mitigasi dan pencegahan longsor kepada pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Untuk peta yang dibuat adalah peta bahaya teknis dan risiko yang dengan mudah dapat dipahami dan digunakan oleh masyarakat setempat untuk pengurangan risiko bencana longsor, dimana peta risiko pada skala desa lokal harus dikembangkan melalui partisipasi masyarakat. Setelah zona dengan kerentanan tinggi dapat diidentifikasi dari peta bahaya longsor, program pencegahan longsor yang tepat dapat dikembangkan. Disarankan juga agar teknologi dan pengetahuan tradisional yang ada harus ditangani juga, untuk menjamin efektivitas program pencegahan longsor.

Idealnya, zona dengan kerawanan tinggi dan risiko longsor harus dicegah dari pembangunan apapun, seperti untuk pengembangan perumahan dan infrastruktur. Namun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka zona di daerah perbukitan yang relative rawan dikembangkan sebagai permukiman dan infrastuktur. Dengan demikian, pengembangan sistem peringatan dini tanah longsor menjadi sangat penting untuk melindungi masyarakat yang tinggal di daerah risiko longsor tersebut. Oleh karena itu, penting agar sistem peringatan dini tanah longsor harus dilakukan dengan biaya rendah dan teknologi sederhana yang dapat dengan mudah dipahami, dioperasikan dan dikelola oleh masyarakat setempat. Memang, sistem seperti itu harus menjadi integrasi sistem teknis dan sosial. Sistem teknis terdiri dari extensometers sederhana, yaitu untuk memantau pergerakan permukaan tanah, dan alat pengukur hujan yang digunakan untuk memantau curah hujan kritis yang dapat menyebabkan longsor. Sementara itu sistem sosial didukung oleh jaringan individu terpilih yang ditugaskan oleh masyarakat setempat di desa sebagai anggota gugus tugas masyarakat untuk mitigasi dan manajemen bencana, dan tim ini bertanggung jawab atas pemasangan, pengoperasian dan pemeliharaan sistem teknis. Sistem peringatan dini sederhana ini berhasil menyelamatkan 35 keluarga dari tanah longsor yang terjadi di desa Kalitelaga di Kabupaten Banjarnegera pada tanggal 7 November 2007 (Karnawati dkk. 2008).

5. Kesimpulan

Peristiwa terjadinya tanah longsor semakin meningkat dari tahun ke tahun, baik yang ada di Indonesia maupun di Negara lain. Upaya pencegahan dan penanggulan sudah banyak dilakukan baik menggunakan pendekatan teknis maupun sosial. Pendekatan teknis diperlukan untuk menyediakan fasilitas untuk akses segera dalam mitigasi longsor yaitu dengan menggunakan system peringatan dini, sementara pendekatan sosial dilakukan dengan pengembangan kapasitas masyarakat setempat yang berada di daerah rawan longsor. Oleh karena itu, pendekatan yang terpadu baik dengan sistem teknis maupun dengan pendekatan sosial harus dilakukan untuk membangun sistem peringatan dini masyarakat yang efektif. Dengan pendekatan strategis ini, ketahanan masyarakat di daerah rawan bencana dapat ditingkatkan secara efektif.

 

Daftar Pustaka

Alnaimat, A., Choy, LM., Jaafar, M. 2017. An Assessment of Current Practices on Landslides Risk Management: A Case of Kuala Lumpur Territory. GEOGRAFIA OnlineTM Malaysian Journal of Society and Space 13 issue 2 (1-12)

BNPB. 2015 dan 2017. Data dan Informasi Bencana Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPT, di akases 13 April 2015.

Bujang. BK., F. H. Ali, T.H. Low 2006, Water Infiltration Characteristics of Unsaturated Soil Slope and its Effect on Suction and Stability, Geotechnical and Geological Engineering 24: 1293-1306.

Chau, KT., Sze, YL., Fung, MK., Wong, WY., Fong, EL dan Chan LCP. 2004. Landslide hazard analysis for Hong Kong using landslide inventory and GIS. Computers & Geosciences 30(4):429-443.

Chen, C.-Y., 2009. Sedimentary impacts from landslides in the Tachia River Basin, Taiwan. Geomorphology 105 (3), 355–365.

Fan, L., Lehmann, P., Or, D., 2015. Effects of hydromechanical loading history and antecedent soil mechanical damage on shallow landslide triggering. J. Geophys. Res. Earth Surf. 120 (10), 1990–2015.

Fan P., Liu Q., Li J. & Sun J. 2005. Numerical analysis of rainfall infiltration in the slope with a fracture. Science in China Ser. E Engineering & Materials Science 2005 48: 107-120.

Gasmo, J. M., H.Rahardjo, E.C.Leong, 2000, Infiltration Effects on Stability of a Residual Soil Slope, Computers And Geotechnics 26: 145-165.

Gavin, K. & Xue, J. 2008. A simple method to analyse infiltration into unsaturated soil slopes. Computer and Geotechnics 35(1): 223-230.

Guzzetti, F., Galli, M., Reichenbach, P., Ardizzone, F., Cardinali, M., 2006. Landslide hazard assessment in the Collazzone area, Umbria, Central Italy. Nat. Hazards Earth Syst. Sci. 6 (1), 115–131.

Guzzetti,F.,Mondini,A.C.,Cardinali,M.,Fiorucci,F.,Santangelo, M.,Chang, K.-T.,2012. Landslide inventory maps: new tools for an old problem. Earth Sci. Rev. 112 (1), 42–66.

Jabatan Kerja Raya (2008). National Slope Master Plan. http://slopes.jkr.gov.my/Documentation/NSMP/English%20Version/NSMPSec1.pdf

Lee, L. M., A. Kassim, Gofar, N. 2011. Performance of Two Instrumented Laboratory Models for the Study of Rainfall Infiltration into Unsaturated Soils. Engineering Geology 117: 78-89.

Karnawati, D., Fathani, T. F., Andayani, B., Burton, P. W. and& Sudarno, I.2011. Strategic program for landslide disaster risk reduction: a lesson learned from Central Java, Indonesia. WIT Transactions on State of the Art in Science and Engineering, Vol 53, © 2011 WIT Press. doi:10.2495/978-1-84564-650-9/08

Karnawati, D., Fathani, T.F., Sudarno, I. & Andayani, B. 2008. Development of community-based landslide early warning system in Indonesia. Proceeding of the 1st World Landslide Forum, Global Promotion Committee of The Int. Program on Landslide (IPL) – ISDR: Tokyo, pp. 305–308.

Lacasse,S., and Nadim, F. 2009. Landslide Risk Assessment and Mitigation Strategy. Landslides–Disaster Risk Reduction. 31-62

Mukhlisin, M. and Aziz, NAA. 2016. Study of Horizontal Drain Effect on Slope Stability. Journal Geological Society of India 87, 483-490.

Mukhlisin, M., Matlan, S.J., Ahlan. M.J., and Taha, M.R. 2015. Analysis of Rainfall Effect to Slope Stability in Ulu Klang, Malaysia. Jurnal Teknologi (Science and Engineering).  72:3 (2015) 15–21.

Mukhlisin, M., Baidillah M.R., and Taha, MR. 2014. Electrical capacitance volume tomography for measurement soil water infiltration in vessel experiments. J. Cent. South Univ. (2014) 21: 358−364.

Mukhlisin, M., and Taha, M.R. 2012. Numerical Model of Antecedent Rainfall Effect on Slope Stability at a Hillslope of Weathered Granitic Soil Formation. Journal Geological Society of India. 79. 525-531 (Scopus, ISI, Q4, IF: 0.567, ISSN No: 0016-7622)

Mukhlisin, M., Baidillah M.R., Taha, MR, and ElShafie, A. 2011. Effect of Soil Water Retention Model on Slope Stability Analysis. International Journal of the Physical Sciences. Vol. 6, No. 19, p. 4629 – 4635. (Scopus, ISI, Q2, IF: 0.540, ISSN No: 0016-7622)

Mukhlisin M, Idris I, Salazar AS, Nizam K, Taha MR. 2010. GIS based landslide hazard mapping prediction in Ulu Klang, Malaysia. In: ITB Scientific Journal 42A(2): 163–178

Mukhlisin, M., & Taha, M.R., 2009, Slope Stability Analysis of a Weathered Granitic Hillslope as Effects of Soil Thickness. European Journal of Scientific Research, Vol.30 No.1, p. 36 – 44

Mukhlisin, M., Taha, M.R., & Kosugi, K., 2008, Numerical analysis of effective soil porosity and soil thickness effects on slope stability at a hillslope of weathered granitic soil formation, Geosciences Journal, Vol. 12, No. 4, p. 401 – 410

Mukhlisin, M., Kosugi, K., Satofuka, Y., and Mizuyama, T. 2006. Effects of Soil Porosity on Slope Stability and Debris Flow Runout at a Weathered Granitic Hillslope. Vadose Zone Journal. SSSAJ; 5:283-295 (Scopus, ISI, Q1, IF: 2.133, ISSN No: 0016-7622)

Ng. K.Y(2012). Rainfall-Induced Landslides In Hulu Kelang Area. Thesis http://eprints.utar.edu.my/510/1/CI-2012-0807115-1.pdf

Nurly G., Lee M.L. & Asof, M. 2006. Transient seepage and slope stability analysis for rainfall-induced landslide: A case study. Malaysian Journal of Civil Engineering 18(1): 1-13.

Osanai, N., T. Shimizu, K. Kuramoto, S. Kojima, and T. Noro. 2010. Japanese early-warning for debris flows and slope failures using rainfall indices with Radial Basis Function Network. Landslides. 7: 1– 14.

Puturuhu, F., Danoedoro, P., Sartohadi, J, dan Srihadmoko, D. 2017. The Development of Interpretataion Method For Remote Sensing Imagery In Determining The Candidate of Landslide In Leitimur Paninsula, Ambon Island. JURNAL ILMU LINGKUNGAN Volume 15 Issue 1 (2017) : 20-34

Rahardjo, H., Li X. W., Toll D. G. and Leong E. C. 2001. The Effect of Antecedent Rainfall on Slope Stability. J. Geotech and Geological Eng. Netherlands.19:371-399.

Wang, Z.F., Li, J.H., & Zhang, L.M.  2011. Influence of cracks on the stability of a cracked soil slope. Unsaturated Soils: Theory and Practice 2011 100(1)1: 721-727.

Zhang, Z., Tao, M. & Morvant, M 2005. Cohesive Slope Surface Failure and Evaluation. Journal of Geothecnical and Geoenvironmental Engineering, ASCE:  898-906.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.