Ilmu Pengetahuan : Syarat Kebangkitan Umat

Oleh : Syifa Fauzia

0

“Kami tidak bertanya apa guna burung-burung itu berkicau. Karena kicauan adalah kepuasan mereka dan mereka diciptakan untuk berkicau. Seperti juga kita tidak boleh bertanya mengapa manusia direpotkan oleh pemikiran untuk mendalami rahasia-rahasia langit… Keanekaragaman gejala-gejala alam begitu besar, dan harta karun yang tersimpan di langit begitu banyak, pasti agar pikiran manusia tidak pernah kekurangan makanan segar.” (Johannes Kepler, Mysterium Cosmographicum, 1596).

Allah Swt. telah menciptakan bumi, langit dan segala isinya dengan berbagai misteri di baliknya. Tentu saja Dia-lah Sang Khaliq, dengan segala kekuasan dan kehendak-Nya, Dia pula lah yang Maha Mengetahui atas segala misteri yang ada dibalik ciptaan-Nya. Akan tetapi, manusia sebagai khalifah di bumi ini, adalah tugas kita untuk senantiasa mempelajari gejala-gejala alam yang telah ada, membongkar ilmu pengetahuan melalui tanda-tanda, pola-pola, hukum-hukum alam atau sunnatullah yang berlaku.

Manusia tidak akan pernah menemukan agama yang sangat memperhatikan keilmuan dengan sempurna selain islam. Tengoklah betapa ilmuwan zaman dulu harus rela dipenggal kepalanya karena dituduh melawan titah gereja. Bagaimana Copernicus, Galileo, dan lainnya terancam nyawanya karena teori heliosentrisnya. Bahkan Keppler yang malang pernah menulis dalam sebuah surat : “Jangan hukum saya sepenuhnya pada pekerjaan perhitungan matematika yang membosankan – beri saya kesempatan untuk melakukan spekulasi filosofis, satu-satunya kegembiraan saya”. Hal ini menandakan bahwa hegemoni gereja pada saat itu sangat membatasi gerak para ilmuwan.

Adapun islam, adalah agama yang selalu menyeru dan memotivasi ilmu pengetahuan. Tidak dapat dipungkiri bahwa pandangan para pemikir muslim sangat dipengaruhi oleh pandangan keagamaan yang berasal dari sumber utama informasi mereka yaitu al-Qur’an. Al-Kindi misalnya, dengan bukunya, al-Falsafah al-Ula, yang membangun dasar-dasar teori relativitas, serta penegasan hukum kausalitas, sebab-akibat. Abu al-Wafa dengan rumusnya yang menjadi identitas trigonometri untuk penentuan arah kiblat. Serta Al-Battani yang melakukan studi terinci mengenai gerhana bulan dan matahari. Dan masih banyak lagi ilmuwan yang lainnya.

Al-Qur’an memerintah manusia untuk merenungi kejadian-kejadian di alam semesta. Firman Allah dalam al-Qur’an Surat Ali Imran: 189-191, yang artinya:

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Demikian pula pada Surat Al-Jatsiyah: 13, yang artinya:

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”

Syaikh Thantawi, Guru Besar Cairo University, menulis bahwa lebih dari 750 ayat kauniyah, ayat tentang alam semseta, dan hanya sekitar 150 ayat fiqih. Akan tetapi, para ulama telah menulis ribuan kitab fiqih dan nyaris tidak memperhatikan serta menulis kitab tentang alam raya dan isinya.

Al-Qur’an, sebagai pedoman umat muslim, telah mengajarkan kita untuk senantiasa menggunakan akal kita untuk mempelajari alam semesta ini. Tidak kurang dari 43 kali kata “akal” digunakan dalam bentuk seperti “afala ta’qiluun” (apakah engkau tak berpikir?). Sepuluh ayat lainnya menggunakan verba “pikir” seperti “la’allakum tatafakkaruun” (Agar engkau memikirkannya). Akan tetapi, realitas yang ada sekarang ini, justru umat islam cenderung terbelakang. Hal ini dikarenakan kita, umat islam, tidak menguasai ilmu pengetahuan, baik teoritis maupun praktis.

Jika kita menengok sejarah, umat islam pernah mencapai masa kejayaannya, yaitu pada masa Abad pertengahan. Tentu saja, beberapa nama ilmuwan yang telah disebutkan di atas berasal dari masa tersebut. Tetapi akankah kita membiarkan masa-masa kejayaan tersebut sebagai kenangan belaka? Tak inginkah kita membangun kembali peradaban yang lebih maju? Peradaban dengan kemajuan ilmu pengetahuan di berbagai bidang. Lalu, bagaimana caranya? Sebagai makhluk tuhan yang dikaruniai akal, saya yakin, anda sudah tahu jawabannya. Al-Qur’an telah memerintahkan, dan kekayaan alam begitu melimpah. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Wallahu A’lam Bisshoab

“Dalam perspektif tauhid, ketika seseorang mempelajari sel-sel jasad renik, proses kimia dalam tubuh makhluk hidup maupun materi antarbintang, struktur ruang-waktu dalam relativitas Einstein, dinamika mikroskopis, dalam mekanika kuantum dengan berbagai output formalnya, seperti The Big Bang, Baryogenesis, maupun Theory of Everything, sejatinya orang tersebut sedang memahami pikiran, kebijakan, dan kehadiran Allah Swt. ” (Dr. Freddy Premana Zen)

 

Sumber Inspirasi:

  • Al-Qur’an terjemah
  • Ayat-ayat Semesta, Agus Purwanto
  • Pengantar Kosmologi, Agus Purwanto
  • Kosmos, Carl Sagan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.