by : Eksa Rusdiyana, S.P., M.Sc*

 

Pembangunan pada sektor pertanian salah satunya perlu didukung dengan pembangunan SDM penggeraknya, termasuk pembangunan SDM petani. Di Indonesia, pembinaan terhadap petani sebagian besar dilakukan melalui pendekatan kelompok melalui pendidikan nonformal seperti penyuluhan pertanian. Pendekatan kelompok dipilih karena melihat karakter petani di Indonesia yang cenderung memiliki keterikatan sosial dalam satu kesatuan wilayah yang kuat. Selain itu pendekatan kelompok juga lebih memberikan kemudahan apabila ingin memberdayakan petani dalam satu kesatuan kolektif. Kelompok tani bukan saja sebagai sarana belajar ataupun sebagai prasyarat untuk memperoleh pembinaan dari pemerintah namun diharapkan mampu berkembang sebagai unit-unit yang berperan memberikan layanan kemudahan bagi para anggotanya. Pembinaan kelompok tani diarahkan untuk mampu berkembang menjadi lembaga ekonomi seperti lembaga simpan pinjam, unit usaha dan lembaga pemasaran.

Kelompok tani di Indonesia belum banyak yang mampu bertransformasi menjadi unit pemasaran yang mampu memfasilitasi pemasaran anggota kelompok taninya secara kolektif dan dijalankan dengan sistem secara profesional. Petani berkelompok seringkali hanya pada saat akan menjalankan usaha tani saja (on farm) selebihnya pasca panen (off farm) mereka akan menjalankan fungsi pemasaran secara individual. Petani yang memasarkan hasil panennya secara individual melalui tengkulak membuat petani berada dalam posisi sebagai price taker. Persaingan secara tidak langsung juga terjadi diantara petani karena masing-masing petani bersaing untuk memperoleh harga yang tertinggi. Petani yang pandai bernegosiasi seringkali memperoleh harga jual yang lebih tinggi daripada petani yang cenderung pendiam dan terikat permodalan dengan tengkulak.

Pengalaman memperoleh tekanan harga menjadi sejarah yang pernah dirasakan oleh kelompok tani cabai lahan pasir pantai di Kabupaten Kulon Progo Yogyakarta selama hampir 24 tahun lamanya (1980-2004). Konflik yang terjadi antara tengkulak dan petani terjadi karena perbedaan kepentingan dalam sumber daya hasil pertanian. Petani menghendaki harga jual maksimum, produk dibeli pada saat panen, serta diterima oleh pasar. Sementara tengkulak menghendaki harga minimal untuk memperoleh keuntungan maksimal, bisa dibayar secara kredit, tersedia setiap saat, serta kualitasnya baik (Bierlin  dan Woolverton, 1991). Konflik kebutuhan antara produsen (petani) dan konsumen (tengkulak) menjadi dasar terjadinya dominasi pihak satu terhadap pihak yang lain. Dalam hal ini tengkulak diuntungkan dengan kepemilikan modal (uang) dan jaringan pasar sementara petani lemah pada dua aspek; (1) petani terbatas secara akses pasar sehingga referensi memasarkan produknya hanya berada di lingkungan lahan/tempat tinggalnya, (2) petani lemah secara produk, karena komoditas yang dihasilkan merupakan komoditas pertanian yang daya simpannya sangat terbatas sehingga perlu segera dipasarkan. Dua kelemahan ini semakin lengkap manakala petani tidak memiliki kemampuan komunikasi dan negosiasi dengan tengkulak. Alhasil petani hanya mampu berperan sebagai price taker  yang menerima harga mati dari tengkulak. Tekanan harga yang lebih rendah yang diterima petani juga turut disebabkan karena semakin panjangnya rantai pemasaran yang berakibat adanya pengurangan harga jual di setiap mata rantai penjualan. Setiap penambahan saluran pemasaran maka akan disertai adanya margin keuntungan yang diambil sehingga untuk memperlebar margin keuntungan tersebut, salah satu cara yang digunakan adalah memperoleh barang dengan harga serendah mungkin. Dalam posisi ini petani sebagai produsen adalah pihak yang paling terkena imbasnya.

Pengalaman memperoleh tekanan dan dominasi tengkulak dalam memasarkan produk cabainya, membuat petani berinovasi mengembangkan pasar lelang sebagai bentuk perlawanan humanis kepada tengkulak (Tahun 2004). Perlawanan dilakukan dengan memasarkan cabainya secara berkelompok menggunakan sistem lelang. Cabai yang terkumpul di ketua kelompok tani dijual kepada para tengkulak melalui lelang tertutup. Tengkulak yang menang adalah tengkulak yang membeli dengan harga yang paling tinggi. Sistem lelang tertutup ini terbukti memberikan keuntungan kepada petani dimana mereka tidak lagi menjadi sasaran permainan harga serta harga cabai yang diperoleh lebih tinggi jika dibandingkan dengan menjual langsung ke tengkulak. Dengan melihat tuntutan agar pasar lelang dikelola secara profesional, maka para petani yang terhimpun dalam  kelompok tani pada akhirnya mulai membentuk pengurus pasar lelang serta aturan-aturan yang disepakati bersama terkait kepengelolaan pasar lelang.

Seiring semakin banyaknya jumlah petani yang memanfaatkan lahan pasir pantai untuk usaha tani cabai maka semakin meningkat juga produksi cabai. Sayangnya, ini juga sejalan dengan semakin banyaknya petani yang mengalami tekanan harga akibat dominasi tengkulak. Kondisi ini menimbulkan ide untuk membuat pasar lelang-pasar lelang di wilayah yang lain. Akhirnya kuantitas cabai hasil panen ikut menentukan jumlah pasar lelang yang diperlukan oleh petani di sepanjang pantai selatan Kulon Progo.  Pada tahun 2007 keberadaan pasar lelang bertambah menjadi 14 kelompok pasar lelang yang tersebar di 5 desa dan 4 kecamatan di wilayah pesisir Kulon Progo. Dengan keberadaan pasar lelang yang semakin bertambah dan manfaat positif yang dirasakan oleh petani pada tahun 2008 dibentuk suatu organisasi sebagai wadah dan persatuan pasar tani di bawah pendampingan Dinas Pertanian Kabupaten Kulon Progo dengan nama Asosiasi Pasar Tani (ASPARTAN) Karyo Manunggal. Pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 2009 jumlah pasar lelang bertambah menjadi 21 kelompok pasar lelang, hingga pada tahun 2013 berkembang ke 35 kelompok tani di lahan pasir pantai di sepanjang Kulon Progo dengan jumlah mencapai 25 pasar lelang. Sistem penyebaran pasar lelang berkembang dengan cara manakala ada kelompok tani yang ingin membuka pasar lelang yang baru maka kelompok tersebut akan mengirimkan sedikitnya 7 orang pengurusnya untuk belajar pada pasar lelang pertama atau pasar lelang yang sudah ada sebelumnya.

Dominasi tengkulak atas petani terjadi melalui sistem pemasaran individual, dimana antar petani berkompetisi dengan sesama petani lainnya untuk memperoleh harga yang paling tinggi. Sementara pemasaran secara kolektif melalui pasar lelang membalikkan sistem persaingan yang terjadi. Sesama tengkulak bersaing untuk memperoleh komoditas yang diperjualbelikan dengan menawarkan harga beli tertinggi melalui lelang tertutup. Berbeda dengan pemasaran langsung ke pedagang tengkulak, keberadaan pasar lelang memperpendek saluran pemasaran cabai yang ada dengan menghilangkan rantai pedagang pengepul. Adanya satu mata rantai pemasaran yang hilang ini menyebabkan pemasaran cabai menjadi lebih efektif karena akan mengurangi margin pemasaran pada rantai pengepul sehingga petani akan memperoleh harga jual cabai yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan menjual melalui jalur pemasaran yang melibatkan pedagang pengepul.

Pola-pola kearifan lokal tersebut bahkan secara kuat melembaga melalui bentuk konsensus ataupun kesepakatan kelompok tani yang mengikat para anggotanya. Melalui kearifan lokal beradaptasi dengan lingkungan, petani mengorganisir diri mereka dalam konsensus untuk menjamin keberlangsungan pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Umstot (1988), Ife dan Tosoriero (2008), maupun Putnam (1993). Umstot (1988) mengemukakan bahwa kelompok memiliki kekuatan untuk mengontrol perilaku anggota. Cara yang paling kuat adalah dengan norma yaitu aturan perilaku yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh setiap anggotanya. Sebagai anggota kelompok tani, petani diharapkan mengikuti beberapa kegiatan maupun aktifitas yang mendukung keberlangsungan aktifitas pertanian lahan pasir pantai tersebut termasuk pemasaran melalui kelompok lelang.

 

 

*Staf Pengajar di Laboratorium Sosiologi Pedesaan,  Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Fakultas Pertanian UNS Solo

*Tulisan di atas disarikan dari Buku “Pasar Lelang Perlawanan Petani Atas Dominasi Tengkulak” Penulis: Eksa Rusdiyana, Ikrani, Abdul Rohman (CV Indotama, Solo, 2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *