by : Catur Sugiyanto

 

1. Pendahuluan
Setiap tahun, sekitar 50.000 pekerja dari NTB pergi ke luar negeri untuk bekerja (menjadi Tenaga Kerja Indonesia TKI). Mereka ini kebanyakan adalah tenaga kerja pada usia produktif. Dominasi tenaga kerja yang dikirim adalah tenaga kerja wanita. Sebagaimana dalam gambar 1, tenaga kerja yang siap berangkat, berkumpul di Bandara Sukarno Hatta, sedang menerima penjelasan dari koordinator pengirim tenaga kerja. Tujuan utama mereka adalah Malaysia dan Arab Saudi. Selain kedua negara tersebut, banyak pekerja mencari kerja di Taiwan, Hong Kong, dan Korea Selatan. Para pekerja ini biasanya memiliki sedikit pendidikan dan saat pergi itulah kali pertama mereka ke luar negeri (bahkan ke luar daerah/pulau).

Gambar 1: Kiri, tenaga kerja siap diberangkatkan dari Bandara Sukarno Hatta. Kanan: Daerah asal dan tujuan pekerja

 

2. Proses Belajar Penerima Remitansi
Kisah sukses dari tenaga kerja luar negeri tersebut, berlanjut sampai mereka bisa mengirimkan uang kepada keluarga yang ditinggal di kampung halaman. Artikel ini membahas bagaimana proses belajar bagi penerima uang kiriman (remitansi). Kami memilih mereka yang diwawancarai adalah mereka yang membuat keputusan dalam pengelolaan pengiriman uang. Sebagai ilustrasi, profil responden adalah sebagai berikut.

Gambar 2: Ringkasan Profil Responden

 

Sebanyak 200 responden di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur terpilih untuk diwawancari. Mereka yang memiliki tanggung jawab dalam menentukan penggunaan uang kiriman. Dari 200 rumah-tangga yang ditemui, ada 66 persen wanita dan 34 persen pria. Usia rata-rata mereka masih berkisar pada usia produktif, yaitu 20 sampai 40 tahun (78 persen), lebih dari 40 tahun (21 persen). Tingkat pendidikan mereka sebagian besar adalah sekolah dasar (58 persen), SMP (23 persen), SMA (16 persen) dan sarjana (3 persen). Pekerjaan utama mereka kebanyakan mengaku sebagai petani (79 persen). Dengan profil seperti ini, kami mewawancarai bagaimana mereka memilih cara menerima uang kiriman dari luar negeri.

Teknologi yang dipergunakan untuk mentransfer uang dari luar negeri sudah bermacam-macam, mencakup sejumlah teknologi transaksi modern. Belum banyak diketahui bagaimana proses adopsi teknologi baru serta adaptasi yang dilakukan oleh keluarga para pekerja tersebut. Banyak peneliti menunjukkan bahwa proses adopsi teknologi baru bukanlah aktivitas yang sederhana. Untuk kasus adopsi teknologi baru di bidang pertanian, berbagai penelitian telah menunjukkan bagaimana sistem penyuluhan berhasil di Asia (Otsuka dan Kalirajan, 2006; Otsuka, 2006), dan juga di Indonesia (Resosudarmo dan Yamazaki, 2011). Adopsi teknologi baru menggerakkan pengguna (adopter) berpindah dari metode transfer yang mereka sudah merasa sangat nyaman, akrab, penuh percaya diri, menjadi metode baru yang menghadapkannya pada kondisi baru yang belum tentu nyaman, meskipun mungkin sudah agak dikenalnya namun karena belum pernah menggunakannya menyebabkan mereka khawatir, disamping karena resiko yang mungkin tidak dikenalnya. Mungkin juga diperlukan penyluh atau pembimbing untuk mereka mengenal sesuatu yang baru.

Bagi penerima uang kiriman, sebenarnya mereka juga mengalami perubahan dalam menghadapi teknologi baru menerima uang, misalnya melalui bank. Pergi ke bank, atau bahkan mengenal bank, juga merupakan hal baru bagi penerima uang kiriman tersebut. Karena selama ini seluruh anggota keluarga berada di sekitar rumah dan sementara itu mereka adalah kelompok keluarga yang kurang berkecukupan, maka interaksi dengan bank belum pernah mereka lakukan. Meskipun demikian, tidak ada yang melakukan bimbingan kepada mereka para calon penerima uang kiriman sebelum anggota keluarga mereka menjadi pekerja migran.

Gambar 3: Ilustrasi Transfer Uang

 

Sebagaimana gambar 3 di atas, para pekerja migran mengalami dilemma bagaimana mengirimkan uang kepada keluarga yang ditinggalkannya di Lombok. Apakah uang akan dititipkan kepada teman atau kenalan, sehingga keluarga mereka langsung bisa menerima kas. Ataukah, uang dikirimkan melalui bank atau cara yang lain. Di masa lalu, mengirim uang melalui teman atau kenalan merupakan cara yang paling banyak dipergunakan oleh sebagian besar tenaga kerja, walaupun proporsi pastinya tidak diketahui karena kurangnya statistik resmi. Pengiriman melalui transfer bank dan metode elektronik modern lainnya (Bank, Western Union, Money Gram, dll.) sudah diketahui secara luas oleh para pekerja. Meskipun demikian, meminta bantuan teman masih biasa dilakukan. Namun, belum diketahui dengan pasti berapa banyak uang yang dikirim melalui teman dan Tekong (pekerja pengirim/agen tidak terdaftar). Dari survei tersebut diperoleh informasi bahwa sebagian besar pengiriman uang berasal dari Malaysia (83 persen) dan Timur Tengah (16 persen). Uang dikirim melalui bank (46 persen), Western Union (35 persen), dan lainnya (19 persen), seperti SMS Banking, CV Merpati Lintas, CV Money Gram atau dipercayakan kepada petugas PJTKI, tekong (agen pribadi), teman, atau keluarga lain yang kebetulan kembali ke kampung halaman mereka.

Bagi para penerima uang kiriman diperoleh informasi ada beberapa jenis mediator. Agar penerimanya dapat berkomunikasi dengan layanan keuangan modern, mereka belajar dari supir ojek, tekong, dan security (satpam). Mereka juga belajar dari tetangga mereka yang sudah pernah melakukan transaksi di bank atau media lainnya. Karena mereka secara bersama-sama ke tempat pengambilan uang (Bank, ATM, atau kantor yang lain), maka antrian panjang selalu terlihat. Penerima uang kiriman mengandalkan layanan mereka, juga memberikan informasi pribadi kepada mereka. Secara umum, biaya layanan mereka tidak ditentukan secara eksplisit dan itu terjadi oleh alamiah.

Gambar 4. Cara menerima uang kiriman. Diperlukan bantuan bagi keluarga penerima uang kiriman, mengingat mereka tidak percaya diri untuk mengurus kiriman uang. Bantuan bisa diperoleh dari Satpam, untuk mengisi formulir (sebagaimanan gambar di sebelah kanan) maupun pihak swasta (sebagaimana gambar di sebelah kiri).

 

Menerima uang kiriman dari pekerja migran melalui bank lebih diutamakan, karena walaupun mereka tidak dapat melakukan transaksi sendiri, namun ada seorang pembantu (biasanya sopir ojek atau orang-orang yang sudah dikenal bisa membantu di bank). Jadi, jika keluarga pekerja migran membutuhkan layanan mereka, mereka dapat diminta untuk diantar ke bank. Administrasi akan dilakukan oleh para pembantu tersebut. Biaya untuk sekali transaksi berkisar antara Rp 50.000 sampai 200.000 termasuk perjalanan pulang. Biaya tersebut biasanya sebanding dengan besarnya uang kiriman. Dari responden diperoleh informasi bahwa nilai uang kiriman biasanya untuk sekali transfer sebesar: kurang dari Rp 500.000 adalah sebanyak 5% responden, 500.000-2.500.000 adalah sebanyak 38%, 2.500.000-5.000.000 sebanyak 39%, dan diatas 5.000.000 sebanyak 5% dari total responden.

Selain itu, transfer uang melalui Western Union (WU) juga disukai oleh pekerja migran, karena lebih mudah di proses, tidak perlu membuka rekening bank, tidak perlu membawa buku, cukup tunjukkan ID (pin) dan pin code (Biasanya PIN ini dikirim via sms) jadi, mereka bisa langsung mengambil uangnya. Lokasi WU juga lebih strategis dan terjangkau bagi keluarga pekerja migran. WU tersedia di berbagai Bank, Indomaret dan Pegadaian. WU di kantor pos juga lebih mudah diakses karena jumlah kantor pos di NTB sebanyak 79 unit yang terdiri dari 4 kantor pos, 56 kantor pos pembantu, 10 kantor pos tambahan, 2 unit pos dan pos rumah 7 unit. WU di lokasi pegadaian lebih mudah dijangkau karena tersedia di berbagai tempat mengingat ada sekitar 128 gerai pegadaian di Lombok. Di samping itu, jam kerja pegadaian juga relatif fleksibel, karena hari Minggu juga buka, jadi seminggu penuh dari jam 10 pagi sd.d. 08.00.

Keluarga pekerja migran juga suka menunggu di bandara untuk menjemput uang kiriman melalui tekong/teman yang pulang ke Lombok. Sudah menjadi situasi yang umum, pada saat kedatangan para pekerja migran, pintu masuk bandara Lombok dipadati orang (keluarga) pekerja yang sedang menunggu uang kiriman. Meeka tidak memikirkan bagaimana kalau uang titipan hilang ata kecelakaan lainnya. Pengiriman uang melalui layanan PJTKI juga disukai karena rekan kerja biasanya bekerja di tempat yang sama (misalnya perkebunan), sehingga lebih mudah mengantarkan dan mengambil uang. Transaksi transfer uang melalui Money Gram, proses transaksi hampir sama dengan WU, tapi juga kemudahannya seperti: bagi yang sudah berlangganan bisa mengambil uang melalui telepon, uang bisa dikirim ke tempat itu, dengan beberapa biaya kekeluargaan.

Sebenarnya, peralihan ke sistem dan teknologi baru dalam menerima uang kiriman sudah mulai dilakukan oleh penerima uang kiriman tersebut. Seperti yang digambarkan oleh hasil survei berikut, mereka memiliki rekening tabungan, kartu ATM, telepon genggam. Mereka mungkin memiliki rekening tabungan tapi mungkin hanya sebagai sarana untuk menerima uang, bukan sarana untuk menabung. Dari FGD diperoleh informasi bahwa Bank telah mendorong penerima
penerima pengiriman uang untuk menyisihkan sebagian uang remitan ke dalam tabungan. Namun, usaha ini tidak sepenuhnya berhasil. Beberapa penerima pengiriman uang mengatakan bahwa mereka sudah menerima mandat dari pekerja, bagaimana mempergunakan uang tersebut, sehingga pengalokasiannya tidak bisa dirubah. Hal ini mengindikasikan bahwa, kebutuhan untuk meningkatkan kemauan dalam menabung harus digarisbawahi pada saat mempersiapkan calon pekerja migran.

Dari profil responden terlihat bahwa mereka yang memiliki rekening bank sebanyak 32% responden dan 68% tidak memiliki rekening bank. Dari mereka yang memiliki rekening bank, 18 responden memiliki kartu ATM dan sebanyak 82 responden tidak memiliki kartu ATM. Responden kebanyakan memiliki handphone, yaitu sebanyak 81% responden dan sisanya 19% tidak memiliki handphone. Proses transfer dapat menggunakan antar rekening atau menggunakan fasilitas lain yang memerlukan diterimanya pengiriman uang agar ponsel dapat menerima PIN transfer. Mengingat tidak semua responden memiliki ponsel dan rekening bank hal ini menunjukkan masih adanya pengiriman media melalui jalur non-transfer, seperti teman atau tekong.

Gambar 5: Tahapan Perubahan Cara Transfer

 

Kehadiran lembaga perantara, mediator, menghubungkan mereka yang tidak terbiasa dengan lembaga keuangan modern telah membantu penerima uang kiriman. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hambatan yang muncul dalam mengadopsi teknologi baru dapat bervariasi. Faktor-faktor ini termasuk antara lain: hambatan dalam penggunaan teknologi baru (Ram dan Sheth 2019, 1989; Davis et al., 1989; Teo and Pok, 2003; Rogers, 2003), mekanisme otorisasi dalam perbankan melalui internet (internet banking) dan ketidaknyamanan (Kuisma et al., 2007). ), nilai relatif dan keuntungan (Ram et al., 2005, Brown et al., 2003, Laukkanen dan Lauronen, 2005), biaya (Ram and Lin, 2005), risiko (Ram and Sheth, 1989, Forsythe and Shi, 2003 , Lisa, 2005), kesiapan mental untuk menerima teknologi baru (Laukkanen, 2007; Laukkanen dan Lauronen, 2005), kemampuan untuk menerima teknologi baru (Laainen et al., 2008, Ellen et al. Parasuraman, 2000) atau technophobia (Meuter et al., 2003), metode baru ternyata sangat berbeda dengan cara yang digunakan untuk membayar tagihan sebelumnya (Fain dan Roberts, 1997), keinginan kuat untuk berurusan dengan orang (teller) dan dengan demikian mencegah orang dari mengadopsi teknologi (Marr dan Prendergast, 1993), kebutuhan untuk interaksi sosial dan berbicara dengan isu personel bank (Heinonen, 2004).

Untuk para penerima uang kiriman di dalam penelitian ini, nampaknya jembatan untuk menuju penggunaan mobile banking adalah menggunakan adalah handphone dan kartu ATM. Pelanggan yang memiliki kedua jenis media tersebut dinilai siap memiliki mobile banking. Hal ini kerena mereka sudah terbiasa dengan media perbankan dan mobile phone sehingga bisa melakukan transaksi mobile (tidak harus bertatap muka dengan petugas perbankan). Berdasarkan pertanyaan penelitian ini yaitu mengapa penerima uang kiriman tidak menggunakan cara modern dalam transaksi dan bagaimana, penerapan teknologi baru dilakukan oleh penerima remitansi. Pertama mereka ditanya mengapa tidak menggunakan handphone, lalu juga ATM. Alasan tidak menggunakan ATM misalnya disebutkan beberapa responden tidak memilih ATM untuk transfer uang karena menurut mereka biaya menerima transfer tunai melalui ATM mahal, takut menggunakan ATM akan mengurangi saldo tabungan mereka, akan ada biaya tambahan yang tidak mereka ketahui, dan antrian di ATM dibuat kurang nyaman.

Penerima uang kiriman lebih suka bertransaksi langsung di bank karena: dilayani oleh petugas lebih menyenangkan daripada swalayan, informasi langsung dari teller lebih informatif daripada informasi via internet/sms. Jika terjadi perselisihan tentang transaksi, penanganan layanan pelanggan akan lebih cepat daripada self-service, dan transaksi langsung di bank bisa berinteraksi dengan nasabah lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masyarakat penerima (pengiriman uang) masih menyukai metode tradisional: dibantu teman teman atau orang yang mereka kenal. Bahkan jika mereka berurusan dengan bank, kantor pos atau lembaga pemindah uang, mereka memerlukan perantara “berbicara” lokal dan merasa nyaman, meski bukan profesinya, seperti tukang ojek atau keamanan kantor. Mereka yang bersedia menggunakan bank lebih memilih transaksi “orang ke orang” dengan layanan teller.

3. Penutup
Penelitian ini menganalisis perilaku keluarga miskin penerima remitansi dalam hal pilihan metode transfer yang mereka pilih untuk menuju pada penggunaan e-money/mobile money. Secara spesifik, pertanyaan ditujukan untuk mengeksplorasi keengganan menggunakan mobile banking (dan mobile money). Mengingat bahwa teknologi transfer dan penggunaan mobile banking merupakan teknologi tinggi, maka kepemilikan rekening tabungan di bank, pemilikan ATM, dan penggunaan celuler phone dipilih sebagai media mengenal dan menggunakan salah satu teknologi tinggi dalam dunia perbankan.

Metode pengiriman remitansi yang tersedia bagi keluarga tersebut adalah: menerima remitansi melalui teman atau kenalan pekerja migrant, transfer melalui bank, transfer melalui lembaga pengiriman uang, dan partner Western Union (seperti kantor pos, pegadaian atau lembaga sejenis). Hasil survey menunjukkan bahwa pengenalan terhadap mobile bank dan transaksi menggunakan transfer dan perbankan masih belum merupakan teknologi layanan keuangan yang bisa dinikmati oleh penerima remitansi secara nyaman. Masih diperlukan mediator untuk bisa menjembatani antara rendahnya kondisi tingkat pengetahuan dan pendidikan penerima remitansi dengan teknologi yang tersedia.

Meskipun masih terkesan sebagai masyaraka tradisional, penerima remitansi sudah mulai mengenai media transfer secara modern. Mereka banyak yang menggunakan celuler phone dan mulai menggunakan rekening bank dan ATM untuk memperlanjar proses menerima uang kiriman. Oleh karena itu, intensitas penggunaan teknologi transfer yang murah, aman, dan friendly akan sangat membantu mereka mengenal dan mengapresiasi teknologi modern dalam pengiriman dan menabung.

 

[1] Artikel ini diambil dari hasil penelitian dengan judul Resistance to e-Money in Poor Remittance Recipient Families: The Case of Lombok Island, Indonesia, oleh Catur Sugiyanto, Tiar Mutiara Shantiuli, dan Zuhrohtun Zuhrotun; dilaporkan dalam IMTFI working paper 2014, University of California Irvine. Penelitian tersebut dimungkinkan karena memperoleh pendanaan dari Bill and Melinda Gates Foundation melalui IMTFI UC Irvine

 

DAFTAR PUSTAKA

Agar, M. ”Professional Stranger: An Informal Introduction To Ethnography,” 2nd ed. ACADEMIC PRESS, 1996.

Agarwal, R., Sambamurthy, V., Stair, R., ”Research report: the evolving Relationship between general and specific computer self-efficacy.” Information Systems Research 11 (4), 2000: 418–430.

Brown, I., Cajee, Z., Davies, D., Stroebel, S., ”Cell phone banking: predictors of adoption in South Africa – an exploratory study.” International Journal of Information Management 23 (5), 2003: 381-394.

Davis, F.D., Bagozzi, R.P., Warshaw, P.R., ”User acceptance of computer technology: a comparison of two theoretical models.” Management Science 35 (August), 1989: 982–1003.

Ellen, P.S., Bearden, W.O., Sharma, S., ”Resistance to technological innovations: an examination of the role of self-efficacy and performance satisfaction.” Journal of the Academy of Marketing Science 19 (4), 1991: 297-307.

Fain, D., Roberts, M.L., ”Technology vs. consumer behavior: the battle for the financial services customer.” Journal of Direct Marketing 11 (1), 1997: 44–54.

Fetterman, ”Ethnography,” 2nd ed., Thousand Oaks, CA: SAGE PUBLICATIONS, 1998.

Forsythe, S.M., Shi, B., ”Consumer patronage and risk perceptions in Internet shopping.” Journal of Business Research 56, 2003: 867–875.

Galperin, Hernan and Judith Mariscal. ”Mobile Opportunities: Poverty and Mobile Telephony in Latin America and the Caribbean.” DIRSI: Dialogo Regional sobre Sociedad de la Informacion. November 2007.

Hammersley, M. ”Reading Ethnographic Research: A Critical Guide.” London: LONGMAN, 1990.

Harris, M. & Johnson, O. ”Cultural Anthropology.” (5th ed.), Needham Heights, MA: ALLYN AND BACON, 2000.

Heinonen, K., ”Time and Location as Customer Perceived Value Drivers.” Economioch Samhälle 124, Swedish School of Economics and Business Administration, Helsinki, Finland, 2004.

Ignacio Mas, Ignacio and Dan Radcliffe. ”Mobile Payments go Viral: MPESA in Kenya. Yes Africa Can: Success Stories from a Dynamic Continent.” WORLD BANK, August 2010.

Im, I., Kim, Y., Han, H.-J., ”The effects of perceived risk and technology type on users’ acceptance of technologies.” Information & Management 45, 2008:1-9.

Jack, William, Tavneet Sri, and Robert Townsend. ”Monetary Theory and Electronic Money: Reflection on the Kenyan Experience.” Economic Quarterly-Volume 96, Number 1-First Quarter 2010 p.83-122

Jensen, R. ”The Digital Provide: Information (Technology), Market Performance and Welfare in the South Indian Fisheries Sector.” Quarterly Journal of Economics, 122, 3, 2007: 879-924.

Kenny, C. ”Information and Communication Technologies for Direct Poverty Alleviation: Costs and Benefits.” Development Policy Review, Vol. 20, No. 2, 2002: 141-157.

Krueger, A. R. ”Focus Groups: A Practical guide for Applied Research.” Thousand Oaks, CA: SAGE PUBLICATIONS, 1994.

Kuisma, T., Laukkanen, T., Hiltunen, M., ”Mapping the reasons for resistance to Internet banking: A means-end approach.” International Journal of Information Management 27 (2), 2007: 75–85.

Laukkanen, T., Lauronen, J., ”Consumer value creation in mobile banking services.” International Journal of Mobile Communications 3 (4), 2005:325–338.

Laukkanen, T., ”Internet vs. mobile banking: Comparing customer value perceptions.” Business Process Management Journal 13 (6), 2007: 788-797.

Luarn, P., and Lin, H.H., ”Toward an understanding of the behavioral intention to use mobile banking.” Computers in Human Behavior 21 (6), 2005: 873-891.

Lwiza, D.R.B., and S. Nwankwo, ”Market-driven Transformation of the Banking Sector in Tanzania.” International Journal of Bank Marketing. Vol.20, No. 1, 2002:38-49.

Marr, N.E., Prendergast, G.P.,. ”Consumer adoption of self-service technologies in retail banking: Is expert opinion supported by consumer research.” International Journal of Bank Marketing 11 (1), 1993: 3-10.

Mas, Ignacio. ”Saving For the Poor: Banking on Mobile Phones.” World Economics. Vol. 11. No. 4. October–December, 2010.

Maumbe, Blessing Mukabeta. ”Digital Financial Service Delivery to Poor Communities in South Africa: A Preliminary Assessment.” International Review of Business Research Papers Vol. 2 No. 2. October, 2006: 72-79.

Meuter, M.L., Ostrom, A.L., Bitner, M.J., Roundtree, R., ”The influence of technology anxiety on consumer use and experiences with selfservice technologies.” Journal of Business Research 56 (11), 2003: 899-906.

Moll, L.C. & Greenberg, J.M. ”Creating Zones of Possibilities: Combining Social Constructs for Instruction.” In: L.C. Moll (ed.) Vygotsky and Education: Instructional Implications and Applications of Sociohistorical Psychology, New York, NY: CAMBRIDGE UNIVERSITY PRESS, 1990.

Must, Britani and Kathleen Ludewig. ”Mobilemoney: Cell Phone Banking In Developing Countries.” www.Policymatters.net. Spring 2010.

Parasuraman, A., ”Technology Readiness Index (TRI): A multiple-item scale to measure readiness to embrace new technologies.” Journal of Service Research 2 (4), 2000: 307-320.

Patton, M.Q. ”How to Use Qualitative Methods in Evaluation.” Newberry Park, CA: SAGE PUBLICATIONS, 1987.

Porteous D. ”The Enabling Environment for Mobile Banking in Africa.” London: DFID, 2006.

http://www.bankablefrontier.com/assets/ee.mobil.banking.report.v3.1.pdf

Ram, S., Sheth, J.N.,. ”Consumer resistance to innovations: the marketing problem and its solutions.” Journal of Consumer Marketing 6 (2), 1989: 5–14.

Rashid, Ahmed T., and Laurent Elder. ”Mobile Phones And Development: An Analysis Of Idrc-Supported Projects.” The Electronic Journal on Information Systems in Developing Countries, 2009. http://www.ejisdc.org

Rogers, E., ”Diffusion of Innovations.” 5th edition, FREE PRESS, New York, 2003.

Rogers EM, Medina UE, Rivera MA, Wiley CJ. ”Complex adaptive systems and the diffusion of innovations.” Public Sector Innovation Journal vol 10, 2005: 1–26.

Spradley, J. ”Participant Observation.” New York: HOLT, RINEHART AND WINSTON, 1980.

Spradley, J. ”The Ethnographic Interview.” New York: HOLT, RINEHART AND WINSTON, 1979.

Teo, T., Pok, S.,. ”Adoption of WAP-enabled mobile phones among Internet users.” OMEGA. 31, 483–498, 2003.

Van Maanen, J. ”Ethnography.” In: A. Kuper and J. Kuper (eds.) ”The Social Science Encyclopedia.” 2nd ed., pages 263-265. London: ROUTLEDGE, 1996.

William, Stephen. ”Celtel and The Walls came tumbling down.” NEW AFRICAN, 2007.

Yang, Ann Shawing. ”Exploring adoption difficulties in mobile banking services.” Canadian Journal of Administrative Sciences. Vol. 26 (2009):136-149.

Yin, R.K.”Case Study Research: Design and Methods.” Newberry Park, CA: SAGE PUBLICATIONS, 1989.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *