Siapkah Ahli Gizi di Era Molekuler?

0

By. Syifanala Fauziyah

 

Era Molekuler yang dimaksud dalam hal ini adalah penanganan masalah kesehatan melalui pendekatan molekuler. Pendekatan molekuler yang telah diterapkan dalam dunia kesehatan salah satunya yaitu farmakogenomik. Hal ini menandakan adanya pemanfaatan informasi “genomic” untuk menganalisa variasi genetik yang berperan langsung dalam sintesis enzim pada metabolisme obat, serta dapat memprediksi respon seseorang terhadap obat tertentu. Adanya vriasi genetik dapat memicu adanya perubahan fungsi enzim. Suatu obat “x” dapat bekerja pada orang tertentu, namun tidak dapat bekerja sesuai dengan fungsinya pada orang lain. Contoh obat yang sudah teruji secara genetik sebelum digunakan dalam terapi adalah obat warfarin (gen yang sesuai CYP2C9 dan VKORC1).

Pendekatan molekuler dalam lingkup intervensi gizi, istilah yang sering digunakan adalah nutritional genomic. Konsep mekanisme nutritional genomic tidak berbeda dengan konsep farmakogenomik. Metabolisme makanan dalam tubuh membutuhkan peran enzim agar zat gizi yang terkandung dalam makanan cepat sampai pada sel target. Adanya perubahan genetik (akibat encode protein) akan menyebabkan perubahan ketersediaan zat gizi yang sampai pada sel target. Istilah lain yang sering digunakan yaitu nutrigenomik. Istilah nutrigenomik lebih tepat digunakan ketika akan mengkaji ada tidaknya interaksi genetik dengan faktor lingkungan, dimana hal ini berdampak pada perubahan ekspresi genetik.

Berdasarkan penelitian Calder,2015 Polyunsaturated Fat Acid (PUFA) omega-3 dapat menurunkan inflamasi melalui sintesis prekursor antiinflamasi eicosonoid serta menurunkan ekspresi genetik yang dapat memproduksi sitokin-inflamasi seperti interleukin-1 dan faktor alfa tumor necrosis.

Kelebihan dalam menerapkan nutritional genomic yaitu dalam mengidentifikasi jenis terapi gizi yang tepat untuk mencegah penyakit atau dalam arti meningkatkan kesehatan, memprediksi penyakit akibat interaksi genetik dengan faktor lingkungan. Hal ini menjadi langkah dini untuk memprediksi ada tidaknya perubahan  genetik yang dikhawatirkan mampu menyebabkan penyakit kronis. Pernyataan ini dapat dikatakan bahwa pendekatan molekuler menjadi salah satu manajemen intervensi preventif yang efektif. Selain itu,ketepatan diet dan pola hidup pasien akan tercapai dengan berdasarkan data genetik yang tiap individu memiliki ciri khas masing-masing.

Penerapan nutritional genomic merupakan komponen penting dalam mengidentifikasi jenis terapi setiap individu yang bervariasi. Tujuh tahun yang lalu, genetic and public policy center menguji coba penerapan nutritional genomic kontraversi . Adanya kekhawatiran kesenjangan masyarakat ekonomi tinggi dengan masyarakat ekonomi rendah terkait biaya yang dikeluarkan untuk tes genetik, sehingga kemungkinan diskriminasi dalam penanganan terhadap pasien meningkat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan nutritional genomic, diantaranya adanya persetujuan (Informed Consent) pasien sebelum dilakukannya tes genetik. Hasil laboratorium dari tes genetik harus memiliki status lisensi dengan standar minimal CLIA (Clinical Laboratory Improvement Amandement), serta terdapat tenaga khusus yang menginterpretasikan hasil tes   genetik tersebut. Secara tertulis pernyataan akan terjaganya privasi setiap individu yang telah melakukan tes genetik akan menjadikan seseorang akan merasakan nyaman. Serta pemusnahan sampel DNA setelah tes genetik dilakukan dapat ditransparasikan kepada pasien. Masalah biaya dalam menerapkan nutritional genomic dipertimbangkan dengan standar pelayanan kesehatan publik dan efektifitas akses pelayanan tersebut.

Pertanyaan yang perlu dikaji lebih lanjut terkait tes genetik adalah laboratorium mana yang akan menganalisa DNA? Bagaimana standar laboratorium terhadap penjagaan privasi hasil tes genetik? berapa total biaya tes genetik? Apakah pola hidup dapat mempengaruhi masing-masing varian gen? Apakah secara ilmiah tes genetik dapat dipertanggung jawabkan keakuratan dan reliabilitasnya? Berapa lama hasil tes genetik dapat diperoleh? Bagaimana dan kepada siapa hasil tes genetik tersebut disampaikan? Siapa yang harus di tes genetik, haruskah orang yang sudah terdiagnosa penyakit tertentu atau orang yang tidak terdiagnosa penyakit?

 

Referensi :

Mahan L.Kathleen, Raymond Janice L.2017.Krause’s food and the nutrition care process 14th edition.Canada:Elsevier

Calder PC:Marine omega-3 fatty acids and inflammatory process:effects,mechanisms and clinical relevance,Biochim Biophy Acta 1851:469,2015

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.