By Eko Andi Suryo

Bahkan sejak langkah pertama ikhtiar kita berharap petunjuk Allah … Ini kuncinya.

Di pagi yang dingin ketika itu, aku telah datang ke kampus Garden Points, di Gedung S lantai 7 … kembali duduk di ruangan kerjaku selama kuliah di QUT Brisbane. Hari itu adalah deadline untuk menyelesaikan full paper yang harus dikirimkan ke conference committe sebelum pukul 11.59 PM.

Mengawali kerja hari itu dari analisis data primer maupun sekunder sampai diperoleh hasil yang siap untuk dijadikan model numerik. Tidak lama kemudian, finite element software mulai aku utak-utik untuk memodelkan kembali masalah dalam bentuk bahasa komputer. Dengan confident telah terselesaikan finite element modelling sampai tuntas melingkupi seluruh model tanah longsor yang aku teliti. Sampai tiba saatnya untuk mengeksekusi model tersebut memakai software dengan cara menekan tombol calculate. Dalam hati ini berkata, “Hmm … sebentar lagi paper ini akan selesai”. Ternyata hasilnya ERROR!

Aku berusaha pahami pesan error dari hasil eksekusi software tersebut, lalu kulakukan beberapa revisi. Aku coba lagi eksekusi dengan software … dan hasilnya masih ERROR. Lanjut dengan alternatif solusi yang lain, model diubah dengan beberapa pendekatan. Untuk ketiga kalinya eksekusi software kulakukan … hasilnya masih ERROR lagi. Wah … gawat.

Saat itu waktu sudah menjelang maghrib, sudah tidak terhitung berapa alternatif solusi yang aku terapkan dalam model, tetapi tetap saja hasilnya ERROR. Mulai timbul rasa panik dalam hati, ini waktunya hanya tinggal 6 jam lagi dan aku belum mendapatkan hasil dari analisis. Adzan maghrib terdengar dari HP, dengan langkah gontai aku ambil air wudlu sambil berusaha memikirkan apa yang salah dari model itu.

Selepas sholat maghrib, aku terduduk merenung, berusaha menenangkan diri dan berserah kepada Allah. Sejenak teringat kisah Imam Ahmad dengan seorang Tukang Roti. Aku mendengar cerita ini dalam sebuah pengajian oleh Ustadz Samsul di dekat rumah di Rungkut Surabaya.

Dalam kisah itu, Ustadz Samsul menceritakan betapa Imam Ahmad sangat kesusahan dan menderita karena tidak diperbolehkan istirahat bermalam di sebuah Musholla oleh si pemilik, ketika suatu malam melakukan perjalanan jauh. Hingga Imam Ahmad harus menyusuri jalan di malam yang gelap, sampai kemudian mempertemukan beliau dengan tukang roti. Singkat cerita, Imam Ahmad diajak menginap di rumah si Tukang Roti yang ternyata punya kebiasaan yang luar biasa yaitu ia selalu ber-istighfar mengiringi setiap gerakannya. Ketika ditanya oleh Imam Ahmad apa syafaat yang tukang roti peroleh setelah tekun beristighfar tersebut, si tukang roti menjawab, “Allah selalu mengabulkan doaku.”

Imam Ahmad menimpali dengan terkagum, “Betulkah semua doamu dikabulkan?”

Kemudian tukang roti melanjutkan, “Iya, semua doaku terkabulkan kecuali satu yaitu doaku kepada Allah untuk dipertemukan dengan Imam Ahmad bin Hambal”.

“Masyaallah”, kata Imam Ahmad, “Ternyata alasan atas segala kejadian aneh yang aku alami malam ini adalah kehendak Allah untuk mempertemukan diriku dengan dirimu. Akulah Imam Ahmad bi Hambal yang malam ini tidur di rumahmu wahai saudaraku”

Subhanallah … teringat nasehat ustadz Samsul saat menutup pengajian, “Mintalah kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan solusinya! Sesungguhnya Allah sangat mencintai hambaNya yang berserah diri.” Aku lanjutkan dzikirku selepas maghrib dengan beristighfar sebanyak-banyaknya, memohon ampun dan petunjuk dari Allah atas masalah “kecil” di dalam analisis modelku.

Adzan menunjukkan waktu isya telah tiba, aku laksanakan sholat Isya dan setelahnya etap lanjutkan berdzikir.

Sekitar pukul 9 malam, tiba2 muncul ide untuk memodelkan ulang. Aku coba ide itu dengan model yang lebih sederhana. Setelah dieksekusi dengan software, teryata sukses, tidak ada error.
Alhamdulillah … Diri ini jadi bersemangat! Model kubuat lebih komplex dan eksekusi lagi … Hasilnya sukses!

Dengan penuh semangat aku lanjutkan analisis modelling menggunakan data yang ada, lalu lanjut dalam narasi argumentatif. Alhamdulillah pada pukul 11.45 PM, full paper bisa aku kirimkan ke conference committe.

Masyallah, sungguh begitu banyak bukti cinta Allah kepada kita hambaNya yang lemah.

Menjadi semakin yakin diri ini dengan kalimat Allah dalam Al Quran, Surat Ali Imron 159:
فاذا عزمت فتوکل علی الله

Yang artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah”

“Bahkan sejak langkah pertama dalam ikhtiyar kita, berharap selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT”, begitu pesan Ustadz Samsul saat menutup pengajian di Rungkut.

One thought on “Dari Rungkut ke Brisbane: sebuah perjalanan Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *