by : Ari Andesfi

PENDAHULUAN

Salah satu indikator kemajuan suatu negara adalah dapat dilihat dari kualitas sumber daya manusianya. Bagus atau tidaknynya kualitas sumber daya manusia suatu bangsa dan negara akan mempengaruhi tingkat keberlanjutan pembangunan bangsa atau negara tersebut. Banyak faktor yang menentukan tinggi rendahnya sumber daya manusia suatu bangsa/ negara. Salah satunya adalah pendidikan. Pendidikan merupakan faktor penting untuk mendidik sumber daya manusia menjadi orang-orang yang akan membangun bangsa ini. Selain itu, pendidikan seperti yang tertuang dalam UUD 1945 merupakan hak bagi setiap warga negara Indonesia. Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan formal yang didirikan oleh pemeritah maupun instasi swasta untuk menunaikan amanah yang telah diatur oleh UUD.

Terlepas dari berbagai persoalan atau permasalahan pendidikan, sekolah di Indonesia saat ini, ada satu poin penting yang tidak boleh dilupakan oleh setiap stackholder pendidikan. Poin penting tersebut adalah pembangunan dan pengembangan perpustakaan dan program literasi informasi di sekolah yang masih dilanda berbagai problema. Perpustakaan sekolah merupakan lembaga penunjang pembelajaran yang keberadaannya telah diatur oleh UU dan peraturan lainnya.   Bahkan perpustakaan sekolah menjadi salah satu syarat dalam penilaian akreditasi sekolah. Selama ini, banyak berita-berita atau fakta-fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa perpustakaan sekolah bukan lagi hal menarik bagi sebagian siswa maupun guru. Apalagi kenyataan bahwa perpustakaan seringkali menjadi perihal kesekian untuk dibahasa oleh kepala sekolah.

Perpustakaan sekolah tidaklah sebatas berperan dalam penyediaan sumber-sumber informasi belajar bagi siswa dan guru. Perpustakaan juga bukanlah sebagai tempat “pembuangan” guru-guru yang bermasalah yang diberikan tugas tambahan untuk membantu pustakawan perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah seharusnya menjadi sentra pendidikan penunjang siswa terutama sarana sosialisasi program literasi informasi. Di era sekarang ini informasi terlahir seperti air sungai yang mengalir begitu deras. Ada yang mengatakan dengan istilah information overload (kelebihan informasi) yang mengakibatkan informasi itu sendiri menjadi kabur, tidak jelas mana yang benar dan mana yang salah. Padahal era keterbukaan informasi dan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi saat ini seharusnya menjadi tantangan tersendiri yang harus dijawab oleh stackholder perpustakaan sekolah. Salah satunya adalah melalui program literasi informasi kepada siswa. Siswa diharapkan mampu menjadi seseorang pembelajar yang mempunyai kompetensi literasi informasi selama bangku pendidikan dan ketika kan melanjutkannya nanti setelah lulus. Hal ini sangat bermanfaat untuk masa depan siswa tersebut ketika ia mampu mengolah dan menggunakan informasi untuk kebaikan dan masa depannya.

Guru dan pustakawan adalah dua pihak yang bersentuhan langsung dengasn siswa. Terutama terkait dengan pembelajaran dan pemanfaatn serta pendayagunaan sumber sumber informasi pembelajaran. Oleh karena itu dalam program literasi informasi di perpustakaan sekolah, dibutuhkan kolaborasi antara guru dan pustakawan perpustakaan sekolah dalam menggelorakan dan meningkatkan kemampuan literasi informasi siswa.

 Literasi Informasi dalam Proses Pendidikan

Literasi Informasi sangat penting bagi siswa di era informasi sekarang ini. Mengingat banyaknya informasi yang beredar jika tidak disertai dengan kemampuan literasi yang baik akan membuat siswa melakukan tindaka-tindakan yang bisa melanggar aturan, seperti menjiplak, plagiasi, dan tindakan pelanggran hak cipta lainnya. Program literasi informasi pada siswa juga akan memberikan suatu arahan agar para siswa mampu untuk mengolah berbagai informasi yang ada menjadi suatu informasi baru. Maka dari hal ini diharapkan kemampuan siswa salah satunya dalam menulis ilmiah, dan meneliti akan meningkat untuk keberhasilan akademisnya.

Shapiro dan Hughes (dalam Reza, 2015) menyatakan setidaknya ada 7 (tujuh) keterampilan literasi yang dibutuhkan seseorang dalam era digital informasi saat ini yakni :

  • Tool literacy : kemampuan memahami dan menggunakan teknologi informasi secara konseptual dan praktikal, termasuk di dalamnya kemampuan menggunakan perangkat lunak, keras, multimedia yang relevan dengan bidang kerja atau studi.
  • Resources literacy : kemampuan memahami bentuk, format,lokasi, dan cara mendapatkan sumber daya informasi terutama jaringan informasi yang terus berkembang. Pengetahuan ini sesuai dengan konsepsi pustakawan tentang literasi informasi, dan mencakup di dalamnya pengetahuan tentang klasifikasi dan pengorganisasian sumberdaya informasi tersebut.
  • Social struktural literacy : pemahaman tentang bagaimana informasi dihasilkan oleh berbagai pihak di dalam sebuah masyarakat. Ini artinya memahami siapa siapa yang berada dibalik produksi informasi ilmiah, jaringan ilmuan mana yang mengahasilkannya, apa kaitannya antara satu produsen dengan produsen lainnya, apakah ada lembaga yang dominan dalam proses itu (sekolah).
  • Reseacrh literacy : yaitu kemampuan menggunakan peralatan berbasis teknologi informasi sebagai alat riset. Para siswa mungkin harus tahu bagaimana menggunakan internet sebagai lapangan pembelajaran, memanfaatkan perangkat lunak statistik untuk analisis, atau perangkat lunak khusus untuk pembelajaran.
  • Publishing literacy : kemampuan untuk menyusun dan menerbitkan publikasi dan ide ilmiah ke kalangan siswa dengan memanfaatkan komputer dan internet. Kemajuan teknologi saat ini, ditambah dengan gerakan-gerakan yang „membebaskan‟ para ilmuan dari kukungan tradisi ilmu yang ketat di jaman cetakan, membuka kesempatan amat luas bagi setiap orang untuk menampilkan pemikirannya di internet. kemampuan membuat situs di internet dan merawat serta mengundang pengunjung dalam jumlah besar, kini nyaris menjadi tuntutan umum bagi para cendekiawan.
  • Emerging technology literacy : kemampuan yang memungkinkan seseorang untuk terus menerima menyesuaikan diri dan mengikuti perkembangan teknologi dan bersama-sama dengan komunitasnya ikut menentukan arah pemanfaatan teknologi informasi untuk kepentingan pengembangan ilmu.
  • Critical literacy : kemampuan melakukan evaluasi secara kritis terhadap untung rugi menggunakan teknologi telematika dalam kegiatan ilmiah. Seorang cendekiawan yang kritis diharapkan tidak menerima bagitu saja kenyataan tentang teknologi yang sekarang tersedia secara meluas, dan dapat melakukan pemeriksaan terhadap manfaat teknologi bagi kegiatan ilmiahnya.

Ketujuh kemampuan literasi ini dapat menjadi standar atau patokan program literasi informasi di perpustakaan sekolah. Dari program ini siswa tidak saja sekedar mendapatkan informasi dari perpustakaan sekolah. Namun, tujuan akhirnya adalah siswa mampu menggunakan setiap informasi yang ada dengan baik, mampu menciptakan suatu informasi baru dengan tetap mematuhi setiap aturan-aturan yang ada dalam dunia informasi dan kekayaan intelektual (HAKI).

Kolaborasi Guru-Pustakawan dalam Program Literasi Informasi di Perpustakaan Sekolah

Guru adalah sosok manusia yang mempunyai tugas mulia. Menuntut ilmu dan membagikan ilmu tersebut pada orang lain. Begitu juga pustakawan. Ia jga merupakan suatu profesi atau sosok manusia yang menyebarluaskan, mengolah, dan mengatur siklus ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan oleh berbagai kalangan. Pustakawan menyediakan akses informasi bagi pengguna, siswa, guru atau warga negara dalam masyarakat (Darvish, 2011:634).

Dalam konteks perpustakaan sekolah-dalam hal ini perpustakaan Sekolah Menenagah Atas- guru dan pustakawan adalah dua pihak yang harus dilibatkan dalam meningkatkan kemampuan literasi informasi siswa. Hal ini dikarenakan guru adalah orang yang memiliki kemampuan keilmuan dan memiliki keterkaitan atau hubungan langsung dengan siswa dalam hal pembelajaran di kelas. Sedangkan pustakawan adalah pihak yang memiliki kemampuan dalam menelusur informasi, memberikan layanan referensi, dan melayani kebutuhan informasi guru dan siswa. Oleh karena itu peran guru dan pustakawan tidak bisa dipisahkan.

Model Kolaborasi Guru-Pustakawan (Teacher-Librarian)

Mattisech dan Monsey (dalam Montiel, 2008: 146) mengidentifikasi 19 faktor yang mempengaruhi suksesnya kolaborasi antara guru dan pustakawan. Mereka mengelompokkan faktor-faktor ini menjadi enam kategori, yaitu: lingkungan, keanggotaan, proses / struktur, komunikasi, tujuan,  dan sumber daya.

Pada model Kolaborasi Guru dan Pustakawan (Model TLC) di bawah ini menjelaskan bahwa guru dan pustakawan terlibat dalam berbagai kegiatan yang membutuhkan mereka untuk bekerja sama atau berkolaborasi. Namun, kegiatan ini berkisar dari hal yang sederhana hingga pada kegiatan yang lebih rumit sehingga pada kemungkinan selanjutnya adalah terjadinya upaya kolaboratif yang memuat empat aspek.

Gambar 1. Model Hubugan Kolaborasi Guru-Pustakawan (Model TLC) dalam Ruang Lingkup yang Lebih Spesifik

Berdasarkan pada gambar 1 diatas, Montiel (2008: 146) memberikan  penjelasan dari  empat aspek kolaborasi guru-pustakawan tersebut, yaitu sebagai berikut:

  • Aspek Koordinasi

 Proses koordinasi menggambarkan bagaimana seorang pustakawan dan guru dapat bekerja sama untuk mengatur jadwal, mengelola waktu secara efisien, dan menghindari tumpang tindih tanggung jawab. Sehingga antara pustakawan dan guru dapat saling harmoni dalam bekerjasama dalam suatu kegiatan di perpustakaan maupun diluar perpustakaan. Selain itu proses koordinasi akan berlanjut pada sebuah proses yang mempertemukan kesamaan pandangan antara guru dan pustakawan. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya perilaku saling berbagi dalam menjalankan setiap rencana, instruksi, dan berbagi ide/ pikiran.

  • Aspek Kerjasama

 Dalam proses kerjasama ini tanggung jawab akan dibagi antara masing-masing pihak untuk membuat seluruh proyek atau kegiatan. Dengan adanya proses kerjasama ini kegiatan akan berjalan lebih mudah karena hal ini akan membentuk jiwa tanggung jawab sebagai sebuah kesatuan profesional.

  • Aspek Perintah yang Terintegrasi/Terpadu

Perintah yang terpadu menunjukkan bahwa suatu kegiatan direncanakan, dilaksanakan, dan instruksikan secara bersama. Termasuk proses evaluasi dalam mengintegrasikan kurikulum perpustakaan dan kurikulum muatan dalam pelajaran. Dengan adanaya kesatuan perintah yang terpadu ini, kolaborasi guru-pustakawan dapat tercipta dengan baik dan tidak merugikan salah satu pihak.

  • Aspek Kurikulum Terintegrasi/Terpadu

Kurikulum program literasi informasi yang terintegrasi menjadi hal yang cukup penting untuk keberlangsungan terjadinya kolaborasi guru dan pustakawan di perpustakaan sekolah. Adanya kurikulum terpadu menjadi dasar dalam menjalankan setiap kegiatan literasi informasi yang telah direnanakan. Hal ini juga dapat memperkecil terjadinya salah persepsi antara kedua belah pihak.

Kolaborasi anatara guru dan pustakawan terjadi arena sebuah mekanisme proses. Proses bagaimana kolaborasi guru-pustakawan dapat terbentuk dijelaskan dalam gambar di bawah ini.

Gambar 2. Proses bagaimana kolaborasi antara Guru-Pustakawan dapat Terjadi

Gambar 2 menunjukkan bahwa suatu kolaborasi Guru-Pustakawan akan memunculkan suatu proses yang berulang-ulang/berkelanjutan yang dimulai dari keberhasilan kecil dari suatu kerjasama antara guru dengan pustakawan.

Kotak bagian sebelah kiri mewakili katalis/ alat pemicu yang dapat memicu atau merangsang terjadinya proses kolaborasi dan memotivasi orang lain untuk bekerja pada tujuan bersama. Melalui komunikasi (diwakili oleh kotak persegi panjang bagian atas) dan manajemen waktu (diwakili oleh  kotak kecil persegi panjang pada bagian bawah). Proses kolaborasi membawa pengajaran dan pembelajaran. Kotak-kotak di tengah menggambarkan suatu siklus peningkatan motivasi pada bagian proses kolaborasi serta meningkatan efek pada siswa tersebut. Pusat panah yang menghubungkan kotak-kotak besar pada kedua ujung menggambarkan sifat kolaborasi yang berkelanjutan/kontiniu: Semakin jelas efek yang diberikan pada siswa maka semakin besar motivasi untuk berkolaborasi (ditandai dengan memperbesarnya kotak bagian tengah). Kotak di paling kanan merupakan proses yang telah menyatu dan menjadi bagian alami dari budaya sekolah tersebut. Proses kolaborasi guru-pustakawan yang berulang menggambarkan bagaimana proses kolaborasi tersebut dapat mempengaruhi instruktur dan peserta didik. Peningkatan motivasi dalam proses kolaborasi dapat’ mempengaruhi perilaku belajar siswa, dan meningkatan hasil belajar siswa serta juga mempengaruhi hubungan kolaborasi antara guru dan pustakawan (Montiel-Overall, 2008).

Pengembangan Program Literasi Informasi di Perpustakaan Sekolah melalui program Smart Mentoring dengan Kolaborasi Guru-Pustakawan.

Salah satu strategi dalam mengoptimalkan program literasi informasi di perpustakaan sekolah yang berbasis kolaborasi guru-pustakawan adalah melalui sarana mentoring. Mentoring dalam hal ini adalah sarana efektif yang akan mempertemukan siswa, guru dan pustakawan dalam kegiatan literasi informasi.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Igbokwe, bahwa mentoring adalah sarana hubungan antara individu yang telah sukses (pementor) untuk mendukung salah satu individu (mentee) yang bercita-cita untuk mengubah dan bertekad menjadi pribadi yang maju dan berkembang dari keadaan sebelumnya (Yusuf, 2011).

Lary (dalam Yusuf, 2011) juga menjelaskan mentoring sebagai hubungan profesional yang saling mendukung antara pihak yang berpengalaman dan sukses dengan pihak yang sedang berada pada pertengahan karier seperti seorang karyawan atau pekerja pemula.

Penulis merancang sebuah konsep mentoring literasi informasi di perpustakaan sekolah menengah dengan nama Smart Mentoring. SMART adalah singkatan dari:

S: SUPPORTIF

Program mentoring literasi informasi ini dapat saling mendukung antara ketiga pihak. Yaitu antara siswa, guru, dan pustakawan.

M: MANDIRI

Mentoring literasi informasi diharapkan mampu melahirkan siswa-siswa yang secara mandiri dapat mencari informasi, mengevaluasi, dan mensintesiskan informasi menjadi sebuah informasi baru yang akan menambah kekayaan ilmu pengetahuan.

A: ACTIVE

Ketiga pihak dalam mentoring literasi informasi dapat saling aktif membantu dalam kurikulum dan program literasi yang telah disusun.

R: RESPONSIBLE

Program mentoring literasi informasi ini menjadi tanggung jawab bersama. Dalam artian setiap kegiatan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan.

T: TECHNOLOGY

Mentoring literasi informasi ini sarat dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Misalnya penggunaan komputer, tablet, ataupun teknologi lain yang mendukung program literasi informasi di perpustakaan sekolah.

SIMPULAN

Perpustakaan sekolah menjadi sarana pokok dalam menunjang proses pembelajaran. Disisi lain, perpustakaan sekolah mempunyai sebuah kewajiban untuk memberikan suatu pendidikan literasi informasi pada siswanya.  Literasi Informasi sangat dibutuhkan oleh siswa dalam belajar, mencari informasi, ataupun dalam menulis suatu karya penelitian ilmiah.

Guru dan pustakawan perpustakaan sekolah memainkan peran penting dalam mendidik siswa agar mempunyai kemampuan literasi informasi yang baik. Oleh karena itu kolaborasi antar guru dengan pustakawan sangat mutlak diperlukan. Aspek kolaborasi meliputi koordinasi, kerjasama, pengnintegrasian perintah, serta penyatuan kurikulum yang terpadu.

Smart Mentoring adalah strategi yang dapat dilakukan dalam mewujudkan program literasi yang baik dan berhasil untuk menunjang proses pembelajaran. Dengan adanya kolaborasi antara guru-pustakawan melalui sebuah wadah smart mentoring diharapkan mampu meningkatkan kemampuan literasi informasi siswa.

Daftar Pustaka

Darvish, H. R., 2011. A study of the information Services on Turkish High Schools. Procedia Social and Behavioral Sciences, Volume 28, pp. 628-635.

Lasa Hs., 2007. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Penerbit Pinus

Montiel, P., 2008. Teacher and Librarian Collaboration: A Qualitative Study. Library & Information Science Research, Volume 30, pp. 145-155.

Montiel-Overall, P & Patricia J., 2011. Teacher and School Librarian Colaboration: A Preliminary Report of Teacher’s Perceptions about frequency and Importance to Student Learning. The Canadian Journal of Information and Library Science, 35(1), pp. 49-76.

Reza, Mutia Yaumi. 2010. Deskripsi Literasi Informasi Pada Siswa SMA International Baccalaureate (IB) Program Diploma di Cita Hati Surabaya. 25 Mei, 2015. http://journal.unair.ac.id/filerPDF/jurnal%20mutia%20yaumi%20R.pdf

Sulistyo-Basuki. 2014. Literasi Informasi dan Literasi Digital. 25 Mei 2015. https://sulistyobasuki.wordpress.com/2013/03/25/literasi-informasi-dan-literasi-digital/#more-136

Yusuf, F., 2011. Mentoring and Its Impact on The Publication Output of Librarians in Selected Academic Libraries in South-West Nigeria. Africa Library & Information Sciences, 21(2), pp. 113-120.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *