By. Hendri Purwanto

Perjuangan umat islam selama bulan Ramadhan akhirnya disambut dengan hari kemenangan 1 syawal 1438 H. Bagi umat islam yang diterima puasa serta amalannya karena mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan serta dapat mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan. Sehingga Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, karena hari ini Allah SWT akan memberikan penghargaan istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para nabi dan orang-orang shaleh, yaitu ridho serta magfiroh-Nya, sebagai ganjaran atas amal perbuatan yang telah dilakukannya selama bulan Ramadhan.

Secara etimologi, kata syawal dimaknai peningkatan. Orang-orang beriman meraih derajat ketakwaan yang tinggi, sehingga pasca bulan Ramadhan ini kualitas keimanannya mengalami peningkatan. Tidak hanya kualitas ibadah tetapi juga kualitas akhlaknya yang selama bulan Ramadhan dilatih secara lahir bathin. Oleh karena itu, hari raya seharusnya dimaknai oleh kaum muslimin sebagai bentuk suka cita karena keutamaan dan karunia Allah, integral dari kebahagiaan karena taat dan ibadah, rasa syukur yang seutuhnya karena takwa dan amal shaleh. Berbahagia karena keutamaan dan karunia Allah adalah perintah Allah SWT dalam Al Qur`an:

قُلْ بِفَضْلِ ه اللَِّ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِ ه ما يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus [10]: 58)

Pada hari kemenangan 1 Syawal juga disyariatkan amal ibadah yang mengandung nilai sosial, disamping nilai ketaatan dan ketundukan kepada Allah sebagai tujuan utamanya. Tujuannya adalah agar kebahagiaan dapat dirasakan oleh umat islam secara merata. Saat hari raya idul fitri banyak kerabat yang akan mengunjungi ke rumah kita dan sebaliknya, anda sebagai tuan rumah hendaknya memuliakan mereka yang berstatus sebagai tamu. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا ه للَِّ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا ه للَِّ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَ ليُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا ه للَّ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, katakanlah yang baik atau diam” (HR. Bukhari 6018, Muslim 47).

Selain kebahagiaan-kebahagiaan di atas, ada juga ibadah yang dianjurkan pada bulan untuk menyempurnakan puasa Ramadhan yaitu puasa Sunnah 6 hari Syawal, sebagaimana dalam hadits Abu Ayyub al-Anshori,

عَنْ أبِي أَيُّوْبَ اْلأنَْصَارِ ي رضي الله عنهأ هَ ن رَسُوْ لُ اللهِ صلى الله عليه و سل م ق الَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أ تَْْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَ ه وا ل
كَانَ كَصِيَامِ الدَهْر
Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa satu tahun penuh” (HR. Imam Muslim dalam Shahihnya 1164).

Banyak faedah jika kita melakukan puasa 6 hari di bulan syawal yaitu Puasa enam hari Syawal setelah Ramadhan berarti meraih pahala puasa setahun penuh, Puasa syawal dan sya’ban seperti shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat fardhu, untuk sebagai penyempurna kekurangan yang terdapat dalam fardhu. Selain itu puasa syawal setelah ramadhan merupakan tanda bahwa Allah menerima puasa ramadhannya, sebab Allah apabila menerima amal seorang hamba maka Dia akan memberikan taufiq kepadanya untuk melakukan amalan shalih setelahnya. Manfaat lain yang dapat dirasakan yaitu dapat melatih kesabaran, menjadikan jasmani lebih sehat karena puasa dapat membersihkan berbagai racun pada sel-sel organ tubuh. Selain itu puasa membuat otak dan pikiran lebih jernih dan tajam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *