By. Mhd. Effsal Hadinata

 

Pernah bertanya-tanya tentang bagaimana tanaman berbicara?. Bila dipikir-pikir mungkin mustahil tanaman bisa berbicara layaknya film-film animasi yang santer ditonton di bioskop.Percaya atau tidak, ternyata penelitian-penelitian yang telah dilakukan ini menjadi  bukti bahwa pada dasarnya makhluk hidup dapat berkomunikasi dengan cara dan bahasanya masing-masing. Sebuah artikel yang berjudul Plant Communicationkarya Martin Heil yang dipublikasikan tahun 2009 menjelaskan bagaimana cara tanaman berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Berdasarkan artikel tersebut tanaman menggunakan sinyal kimia sebagai bahasa komunikasi dengan tanaman lainnya. Sinyal kimia yang diberikan memiliki fungsi sebagai peringatan kepada tanaman lain dari potensi ancaman lingkungan. Tanaman tersebut akan melepaskan senyawa tertentu yang akhirnya akan menempel pada daun tanaman lain di sekitarnya. Senyawa tersebut dinamakan dengan Volatile Organic Compound (VOC). Selanjutnya, VOC akan mengaktifkan mekanisme pertahanan dari ancaman yang akan datang pada tanaman lain.

Gambar 1. Sistem VOC  yang diberikan antara satu tubuh tanaman dan dengan tanaman lain. (Heil dan Ton2008)

Fenomena ini telah diuji sejak tahun 1983 hingga 2009 pada beberapa tanaman seperti tembakau (Nicotiana tabacum), jagung (Zea mays), tomat (Lycopersicon esculentum), poplar (Populus deltoides x nigra.), dan lain-lain. Hasilnya menunjukkan bahwa tanaman tomat dan tembakau menghasilkan senyawa VOC yang berfungsi sebagai penghalang herbivora dengan membuat daunnya terasa tidak enak bagi herbivora tersebut. Sedangkan pada tanaman jagung dan kapas, senyawa VOC yang telah diaktifkan membuat musuh alami menghampiritanaman tersebut sehingga herbivora pemakan daun tanaman tersebut merasa terganggu. (Heil 2009)

Gambar 2. Richard Karban, seorang ecologist dari Universitas California yang meneliti komunikasi tanaman (Sagebrush)

Gambar 3. Tanaman uji (Sagebrush) yang diserang oleh hama, tanaman tersebut mengeluarkan senyawa kimia untuk memberikan peringatan kepada tanaman lain disekitarnya.

Selain itu, sinyal-sinyal elektromagnetik juga diaplikasikan pada tanaman untuk membuktikan komunikasi yang terjadi (Kaban 1983, McGowan 2013). Pengujian tersebut diawali dengan menempatkan mikroelektroda pada daun-daun. Ketika daun-daun tersebut diserang/dimakan oleh organisme terjadilah beberapa perubahan pada garis elektromagnetik. Perubahan pada garis elektromagnetik ini diduga terjadi akibat adanya sinyal yang diproduksi dan dialirkan oleh membran pada dinding sel pada bagian tanaman yang diserang. Penelitian yang mengejutkan tentang tanaman yang berkomunikasi juga dihasilkan oleh Rhoades yang dirilis pada tahun 1983. Rhoades memberi makan serangga-serangga dengan daun dari pohon yang telah terinfeksi. Pertumbuhan serangga-serangga tersebut berangsur-angsur melambat bahkan sempat terhenti ketika Rhoades memberi makan dengan daun yang tidak terinfeksi yang tumbuh disekitar pohon terinfeksi tersebut.

 

Referensi

Heil Martin. 2009. Plant Communication. Encyclopedia of Life Sciences. John Wiley and Sons. 61:1-6. doi : 10.1002/9780470015902.a0021915

McGowan Kat. 2013. The Secret Language of Plants. Quanta Magazine [Internet]. Desember 2013; [diunduh pada 25 Mei 2017]. https://www.quantamagazine.org/20131216-the-secret-language-of-plants/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *